Jadi Inspirasi
Jadi Inspirasi
Koleksi Buku Inspirasi Bisnis Terbaik
Bisnis & Entrepreneurship

Dari Sering Kasbon Jadi Pengusaha Working Space Tanpa Modal

Kisah Feri Reviandi mengubah nasib dari karyawan sering kasbon menjadi pemilik bisnis working space dengan strategi kreatif memanfaatkan properti orang lain.

(12 Februari 2026)
4 menit baca
Dari Sering Kasbon Jadi Pengusaha Working Space Tanpa Modal
Ilustrasi Dari Sering Kasbon Jadi Pengusaha Working Space Tanpa Modal.
Hampers Ramadan Premium

Tahun 2011, Feri Reviandi masih berstatus sebagai karyawan biasa di Jakarta. Gajinya kerap tidak cukup untuk menutup kebutuhan hidup hingga ia terpaksa melakukan kasbon atau berutang ke sana kemari. Kondisi keuangan yang sempit itu memicu keinginan kuat untuk memiliki sumber penghasilan tambahan yang lebih stabil.

Ia awalnya melirik bisnis kos-kosan yang sedang booming saat itu. Namun, hambatan besar segera muncul karena bisnis tersebut menuntut kepemilikan aset properti sejak awal. Feri sadar bahwa membeli bangunan untuk dikontrakkan mustahil dilakukan dengan kondisi tabungan yang minim.

"Kalau Anda punya kos-kosan, Anda harus punya dan beli dulu kos-kosannya. Beda dengan working space, tempatnya kita bisa sewa bahkan bisa kerja sama dengan pemilik properti."

Pemahaman inilah yang mengubah arah perjalanan kariernya. Feri beralih fokus pada bisnis working space atau ruang kerja bersama. Model bisnis ini memungkinkan seseorang mengelola penyewaan tempat tanpa harus memiliki bangunannya terlebih dahulu.

Baca juga: Strategi Properti Azhari: Belajar dari Kegagalan hingga Sukses

Memanfaatkan Properti Orang Lain Tanpa Modal Besar

Konsep dasar working space berbeda signifikan dengan kos-kosan atau hotel. Penyewa hanya menggunakan ruangan selama jam kerja, biasanya delapan jam sehari, bukan menginap 24 jam. Karakteristik ini membuka peluang kerjasama yang lebih fleksibel bagi pengelola.

Feri memulai langkahnya dengan menghubungi kenalan di lingkaran terdekat yang memiliki bangunan kosong. Ia mencari pemilik properti yang asetnya belum termanfaatkan secara optimal. Proses ini tidak berjalan mulus karena beberapa orang menolak tawaran kerjasamanya.

Ia baru berhasil menemukan mitra pada orang keenam atau ketujuh yang ia hubungi. Pemilik bangunan tua tersebut setuju untuk bekerja sama merenovasi dan mengelola gedung menjadi ruang kerja. Kuncinya ada pada pembagian peran di mana pemilik menyediakan aset fisik.

Baca juga: Dari Steward ke Pendiri Firstwave Coffee: Kisah Jatuh Bangun Leo

"Renovasi ya tempat itu sudah disediakan oleh pemilik propertinya sehingga kita dengan semua permodalan yang terbatas tidak perlu mengeluarkan modal lagi uang yang banyak untuk menjalankan bisnisnya," ujar Feri menjelaskan skema kerjasamanya. Strategi ini memangkas beban investasi awal yang biasanya menjadi penghalang utama pengusaha pemula.

Dengan skema tersebut, Feri bisa langsung beroperasi tanpa terbebani cicilan bank untuk pembelian tanah atau bangunan. Ia hanya perlu fokus pada pengelolaan operasional dan pemasaran kepada calon penyewa. Risiko finansial pun menjadi jauh lebih terkendali dibandingkan jika ia memaksakan diri membeli properti lewat kredit.

Pentingnya Uji Pasar dan Ketahanan Saat Krisis

Pengalaman mengelola kos-kosan sebelumnya memberikan pelajaran berharga bagi Feri. Bisnis kos yang dibiayai penuh oleh bank ternyata menghasilkan margin tipis setelah dikurangi cicilan dan biaya operasional. Pendapatan juga cenderung stagnan sekali seluruh kamar terisi penuh.

Sebaliknya, working space menawarkan potensi pendapatan yang dapat terus berkembang atau scalable. Meskipun seluruh ruangan sudah disewa, pengelola masih bisa mengembangkan layanan tambahan untuk meningkatkan omzet. Fleksibilitas ini menjadi keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki bisnis properti konvensional.

Feri menekankan dua hal krusial dalam menjalankan bisnis ini yaitu metode pemasaran yang efektif dan uji pasar yang matang. Banyak pemula gagal karena mengabaikan tahap pengujian respons pasar sebelum meluncurkan bisnis secara penuh. Evaluasi hasil uji pasar menjadi penentu apakah model bisnis tersebut layak dikembangkan lebih lanjut.

Ujian sesungguhnya datang saat pandemi COVID-19 melanda dunia pada tahun 2020. Banyak bisnis terpaksa tutup gulung tikar akibat pembatasan aktivitas masyarakat. Bisnis properti seperti hotel dan kos-kosan mengalami penurunan okupansi drastis hingga 90 persen karena penghuni pulang kampung.

Nasib baik justru menghampiri bisnis working space milik Feri. Penurunan pendapatan yang ia alami hanya berkisar antara 15 hingga 20 persen. Angka ini jauh lebih ringan dibandingkan sektor properti lainnya yang nyaris lumpuh total.

Hal ini terjadi karena penyewa working space mayoritas adalah para pengusaha. Mereka memiliki mentalitas bertahan hidup yang kuat demi menjaga dapur keluarga tetap mengebul. Selama bisnis inti mereka masih bisa berjalan, mereka akan berupaya keras mempertahankan kantor sewaan mereka.

"Pengusaha tetap pasti akan berusaha bertahan semaksimal mungkin supaya bisnisnya jalan, bisnisnya enggak bangkrut. Karena kalau bisnisnya bangkrut lah terus dia sendiri nanti makan apa?"

Kondisi ini membuktikan bahwa fondasi bisnis working space dibangun di atas komunitas pejuang ekonomi yang tangguh. Feri kini mengelola tiga perusahaan nasional dengan lokasi tersebar di Jakarta, Jawa Tengah, dan Tangerang. Perjalanan dari seorang karyawan yang sering kasbon menjadi pemilik bisnis sukses membuktikan bahwa keterbatasan modal bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.

Kunci utamanya terletak pada kreativitas memanfaatkan sumber daya yang sudah ada di sekitar kita. Alih-alih menunggu kaya untuk membeli aset, kita bisa memulai dengan mengelola aset orang lain melalui skema kerjasama yang saling menguntungkan.

Dikutip dari Jadi Inspirasi / Sekali Seumur Hidup (YouTube)

Bagikan artikel ini

Komentar

Pelatihan Trading Saham