Jadi Inspirasi
Jadi Inspirasi
Koleksi Buku Inspirasi Bisnis Terbaik
Finansial & Investasi

Dari Tragedi WTC hingga COVID: Kisah Trader yang Konsisten Profit

Steven Tunas berbagi kisah dari Margin Call akibat tragedi WTC 2001 hingga pandemi. Ia membuktikan trading konsisten bisa diraih tanpa judi online.

(17 Februari 2026)
4 menit baca
Dari Tragedi WTC hingga COVID: Kisah Trader yang Konsisten Profit
Ilustrasi Dari Tragedi WTC hingga COVID: Kisah Trader yang Konsisten P.
Hampers Ramadan Premium

September 2001 menjadi bulan kelam bagi banyak pelaku pasar modal global. Peristiwa penabrakan gedung WTC di Amerika Serikat memicu kepanikan massal yang merontokkan indeks saham dunia dalam sekejap. Steven Tunas, seorang fund manager di ABC Grup, merasakan langsung dampaknya saat baru enam bulan berkecimpung di industri ini.

Hampir seluruh nasabahnya mengalami Margin Call atau MC secara serentak karena harga yang anjlok drastis atau gap down. Kejadian itu menjadi titik terendah yang mengajarkannya satu hal penting: menahan posisi overnight membawa risiko kehancuran modal yang tak terduga.

Pengalaman pahit tersebut membentuk filosofi tradingnya hingga hari ini. Steven memilih jalur scalping, strategi transaksi cepat tanpa menginap posisi, untuk menghindari jebakan volatilitas ekstrem seperti saat krisis 2008 atau pandemi COVID-19 nanti.

Baca juga: Hendy Tanuardy: Dari Nyaris Bangkrut di Jakarta Jadi Mentor Ribuan Trader

Bertransformasi dari Korban Krisis Menjadi Fund Manager

Perjalanan karier Steven dimulai setelah lulus dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Latar belakang pendidikannya memang tidak linier dengan dunia keuangan, namun ia menempuh jalur profesional melalui berbagai pelatihan di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Berjangka Jakarta.

Ia memulai karier sebagai junior analis dan wakil perantara pedagang efek. Tugas awalnya sekadar menerjemahkan analisis bahasa Inggris dan menerima order jual beli via telepon untuk saham-saham perbankan. Ketekunannya membawanya pindah ke perusahaan pialang berjangka yang fokus pada forex dan emas.

Di sana, Steven mempelajari seluruh aspek bisnis, mulai dari operasional, pemasaran, hingga penanganan pengaduan nasabah. Aksesnya ke ruang dealing (dealing room) memberinya wawasan nyata tentang perilaku trader, mulai dari swing trader hingga scalper.

Baca juga: Hendra Chen: Krisis Mengajarkan Pola Uang yang Sesungguhnya

Kualitas pelayanannya menarik perhatian seorang nasabah besar yang ternyata merupakan pemilik ABC Grup. Pada tahun 2009, ia dipercaya menjadi fund manager di kantor pusat grup tersebut. Selama 16 tahun terakhir, Steven mengelola dana perusahaan untuk investasi saham, obligasi, forex, dan emas.

Aktivitas mengajarnya baru benar-benar intensif saat pandemi COVID-19 melanda. Banyak permintaan datang kepadanya untuk berbagi pengalaman trading di tengah ketidakpastian ekonomi global. Respons positif inilah yang mendorongnya mendirikan Jago Scalping Community bersama rekannya.

"Saya kasih tahu saya kalau ngajar mungkin enggak akan runtut seperti dosen. Tapi kalau diminta berbagi pengalaman saya trading akan mudah buat saya tok berbagi pengalaman apa yang saya lakukan sehari-hari," ujar Steven mengenai metode pengajarannya.

Melawan Mental Judi demi Profit Konsisten

Tantangan terbesar dalam mendidik masyarakat Indonesia menurut Steven bukan pada rumitnya analisis teknikal, melainkan karakter manusia yang ingin serba instan. Banyak orang terjun ke pasar modal dengan harapan cepat kaya tanpa bekal ilmu yang memadai.

Mereka sering kali menggunakan modal kecil namun memaksakan volume transaksi atau lot yang sangat besar. Strategi berbahaya ini membuat akun mereka rentan habis seketika ketika pasar bergerak berlawanan arah. Istilah Margin Call kembali menjadi momok bagi mereka yang terjebak mentalitas judi.

Steven menekankan bahwa menjadi trader ahli seharusnya disetarakan dengan profesi dokter spesialis atau pilot. Seorang pilot harus menjalani pendidikan bertahun-tahun dan akumulasi jam terbang ratusan kali sebelum dipercaya menerbangkan pesawat sendirian.

Demikian pula dengan trader. Mereka wajib mengikuti pelatihan resmi dari bursa, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), atau Bappebti. Literasi keuangan yang rendah sering kali membuat pemula mengabaikan manajemen risiko demi mimpi keuntungan ribuan persen dalam sebulan.

Dalam komunitas Jago Scalping, Steven mengajarkan materi lengkap yang mencakup manajemen uang, manajemen risiko, serta tiga jenis analisis: fundamental, sentimen pasar, dan teknikal. Fokus utamanya adalah mengajarkan apa yang harus dilakukan saat sedang rugi, bukan hanya cara mengambil untung.

"Kalau bicara dapat untung itu mudah sekali tapi orang itu gampang untuk cari untung. Semua orang enggak usah diajarin kalau mau ngambil untung. Tapi kalau lagi rugi mesti ngapain? Itu sulit," tegas Steven menyoroti kelemahan umum trader pemula.

Strategi scalping dipilih karena eliminasi risiko overnight. Dengan menutup semua posisi sebelum pasar tutup, trader terhindar dari kejutan harga lompat (gap) saat tidur atau di akhir pekan. Metode ini memungkinkan profit kecil yang dikumpulkan secara konsisten setiap hari.

Komitmen Steven terhadap edukasi berlanjut dengan layanan mentoring seumur hidup bagi anggota komunitasnya. Ia memastikan para peserta tidak dibiarkan bingung setelah kelas usai melalui panduan live trading dan analisis harian di grup khusus.

Pesan akhirnya jelas bagi siapa saja yang ingin masuk ke dunia investasi. Jadilah generasi yang cerdas, tidak mudah tertipu iming-iming instan, dan mampu membedakan antara investasi nyata dengan spekulasi liar yang merugikan.

Dikutip dari Jadi Inspirasi / Sekali Seumur Hidup (YouTube)

Bagikan artikel ini

Komentar

Pelatihan Trading Saham