Rizki Ananda Musa pernah berada di titik terendah dalam perjalanan bisnisnya. Menjelang Lebaran, ia tidak memiliki uang tunai untuk membayar gaji karyawan, apalagi memberikan Tunjangan Hari Raya (THR). Kebingungan melanda karena kewajiban sebagai pengusaha harus segera dipenuhi.
Dalam kondisi terhimpit itu, ia memutuskan meminjam bantuan kepada ibunya. Sang ibu memberikan perhiasan emas miliknya tanpa ragu. Rizki kemudian membawa emas tersebut ke Pegadaian untuk dicairkan menjadi uang tunai.
"Akhirnya kita ke pegadaian untuk bayar gaji pegawai. Dari situ saya mulai belajar, oh ternyata jadi pengusaha. Benar-benar pengusaha ini bukan hal yang mudah."
Momen pahit tersebut menjadi pelajaran berharga bagi pemilik PT Skinsol Cosmetic Industri ini. Ia menyadari bahwa dunia usaha menyimpan tantangan yang tidak diajarkan di bangku sekolah formal. Pengalaman hiduplah yang sesungguhnya mengasah mental seorang pebisnis.
Baca juga: Ali Sarbani: Dari Anak Petani Kudus Menjadi Raja Properti Semarang
Perjuangan Membangun Pabrik dari Halaman Rumah
Perjalanan Rizki dimulai setelah menikah dan memutuskan untuk mandiri. Ia tidak menyukai keterikatan waktu kerja kantoran dari pagi hingga sore. Keinginan untuk bebas mengatur waktu mendorongnya merintis usaha sendiri bersama suami.
Awalnya, mereka bertindak sebagai distributor kosmetik dengan sistem maklon ke pihak lain. Namun, masalah muncul ketika pabrik mitra tidak memproduksi barang dengan baik. Legalitas produk menjadi bermasalah hingga berurusan dengan Badan POM.
Evaluasi besar-besaran pun dilakukan pasangan ini. Sekitar 15 tahun lalu, mereka memutuskan membangun pabrik sendiri skala UMKM. Lokasi produksi pertama berada di lahan belakang rumah seluas kurang lebih 1.000 meter persegi di Ciwaruga, Bandung.
Baca juga: Yohanes Henki: 25 Tahun Jadi Kontraktor Sukses Tanpa Modal Awal
Tahun-tahun awal berjalan sangat lambat. Butuh waktu lima tahun sebelum pesanan maklon mulai berdatangan secara konsisten. Rizki dan suami melakukan pemasaran dari pintu ke pintu, bahkan sering ditolak oleh teman sendiri yang memiliki toko kosmetik.
"Saya sama suami juga turun gitu ya sampai ditolak. Padahal teman sendiri punya toko kosmetik di Cimahi saya ingat banget. Tapi ditolak gitu. Aduh rasanya tuh sakit banget," kenang Rizki mengenang masa-masa sulit tersebut.
Suaminya selalu mengingatkan untuk bersabar dan tidak menginginkan hasil instan seperti mie instan yang cepat naik namun mudah jatuh. Nasihat itu diamalkan dengan terus bekerja keras meski hasil belum terlihat nyata.
Titik Balik dan Ekspansi ke Kawasan Industri
Usaha keras mulai membuahkan hasil pada tahun kelima hingga keenam. Pesanan mengalir deras, termasuk kontrak besar dari perusahaan MLM senilai miliaran rupiah. Kapasitas produksi di rumah pun menjadi kewalahan hingga harus bekerja dua shift sampai tengah malam.
Kondisi rumah yang berubah fungsi menjadi gudang penuh kemasan memicu keluhan tetangga. Masalah pelik terjadi ketika aktivitas produksinya dilaporkan ke polisi karena dianggap mengganggu lingkungan, meskipun izin usaha sudah lengkap.
Aparat dan wartawan sempat datang ke rumahnya. Rasa tidak nyaman dan tekanan mental membuat Rizki dan suami bertekad mencari lokasi baru yang lebih layak. Mereka ingin bisnis yang dibangun berjalan tenang dan profesional.
Peluang terbuka saat pandemi COVID-19 melanda pada 2019. Sebuah pabrik cat di kawasan Batu Jajar, Kabupaten Bandung Barat, hendak dijual karena pemiliknya berhenti berproduksi. Rizki memberanikan diri membeli fasilitas tersebut untuk dialihfungsikan.
Kini, PT Skinsol Cosmetic Industri beroperasi di gedung yang jauh lebih representatif. Fasilitas ini memiliki laboratorium R&D untuk divisi dekoratif dan perawatan kulit. Proses formulasi dilakukan melalui uji coba langsung pada manusia, bukan hewan.
"Kita enggak no animal testing. Jadi, eh kita gunakan bahan baku yang memang dia tersertifikasi bahwa dia no animal testing," tegas Rizki mengenai komitmen keamanan produknya.
Dari ruang pencampuran berkapasitas satu ton, berbagai produk sampo dan perawatan tubuh diproduksi massal. Transformasi dari halaman rumah sempit menjadi pabrik industri modern membuktikan ketahanan mental sang pendiri.
Rizki sempat mencoba bisnis fashion seperti baju dan sepatu, namun merasa tidak cocok karena tren yang berganti terlalu cepat. Ia menemukan passion sejatinya di industri kosmetik yang memungkinkan interaksi mendalam dengan pelanggan.
Kepercayaan pelanggan tumbuh karena pemahaman Rizki yang kuat terhadap bahan baku dan proses produksi. Hal ini berbeda dengan bisnis ritel biasa yang hanya fokus pada penjualan akhir tanpa memahami teknis pembuatan.
Kisah Rizki Ananda Musa mengajarkan bahwa kesuksesan tidak diraih dalam semalam. Gangguan tetangga, penolakan teman, hingga kesulitan modal adalah bagian dari proses pendewasaan bisnis. Setiap hambatan justru menjadi batu loncatan menuju skala yang lebih besar.
Hari ini, ribuan produk keluar dari lini produksinya untuk berbagai merek lokal. Semua berawal dari keputusan nekat menggadaikan emas ibu demi menjaga kepercayaan karyawan di hari raya.






