Junar pernah mengalami kelumpuhan total sejak kelas 2 Sekolah Dasar hingga akhir kelas 1 SMA. Diagnosa dokter menyebut pertumbuhan tubuhnya terhambat, memaksanya menghabiskan waktu hampir sebulan di rumah sakit saat masih kecil. Kondisi fisik itu tidak menghalanginya meraih gelar sarjana psikologi dari Universitas Pelita Harapan pada 2018. Kini, ia dikenal luas sebagai career coach dan konten kreator yang mengulas dunia kerja, mulai dari pembuatan CV hingga strategi lolos wawancara.
Perjalanan kariernya dimulai sebagai intern HR, lalu berkembang menjadi HR Generalis di sebuah startup Jakarta. Saat pandemi melanda, Junar beralih ke perusahaan edutech yang menerapkan sistem kerja remote penuh. Ia telah menjalani pola kerja jarak jauh ini selama hampir empat tahun. Di tengah kesibukan profesionalnya, ia meluangkan waktu membuat konten edukasi untuk membantu fresh graduate dan mereka yang ingin banting setir karir.
Berdamai dengan Keterbatasan dan Bullying
Masa sekolah Junar tidak selalu mudah. Ia mengakui bahwa lingkungan sekitarnya sering kali merespons kondisinya dengan rasa penasaran berlebihan. Beberapa teman bahkan menjadikannya bahan bullying, meski sebagian besar berupa serangan verbal seperti ejekan atau perendahan martabat. Insiden fisik seperti pukulan atau menyembunyikan barang miliknya terjadi, namun frekuensinya sangat jarang dibandingkan adu mulut.
Baca juga: Ali Sarbani: Dari Anak Petani Kudus Menjadi Raja Properti Semarang
Tantangan terbesar bagi Junar adalah menemukan keseimbangan antara keinginan diperlakukan sama dan kebutuhan akan akomodasi khusus. Ia menyadari adanya area abu-abu dalam perlakuan terhadap kelompok disabilitas. Di satu sisi, fasilitas prioritas di transportasi umum menunjukkan kesadaran masyarakat. Di sisi lain, ia tetap ingin dianggap mampu setara dengan orang lain tanpa label minder atau insecure.
Proses berdamai dengan kondisi tersebut tidak terjadi dalam semalam. Junar menekankan bahwa penerimaan diri membutuhkan waktu dan fokus pada lingkaran pendukung yang positif. Ia memilih untuk tidak terpaku pada masalah yang tidak terselesaikan, melainkan pada orang-orang yang tetap berdiri di sampingnya.
"Percayalah yang ngata-ngatain kita biasanya bukan orang-orang yang membiayai hidup kita, kan. Jadi buat apa yang biayain hidup kita aja enggak pernah ngatur-ngatur kayak gitu," ujar Junar menasihati mereka yang kerap ragu karena cibiran orang lain.
Pentingnya Praktik Dibanding Sekadar Teori
Minat Junar menjadi konten kreator bermula saat pandemi membatasi aktivitas luar ruangan. Kebijakan kerja dari rumah memberinya keseimbangan kehidupan kerja yang lebih baik dan waktu luang berlebih. Awalnya, ia membagikan konten psikologi dan motivasi umum. Namun, melihat sulitnya kondisi ekonomi dan tingginya angka pengangguran, ia memutuskan untuk spesifik membahas tips mencari kerja.
Baca juga: Yohanes Henki: 25 Tahun Jadi Kontraktor Sukses Tanpa Modal Awal
Respons audiens ternyata sangat antusias. Konten-kontennya meledak karena menyentuh kebutuhan riil masyarakat di masa krisis. Keberhasilan ini semakin memotivasinya untuk membuka layanan career coaching. Tujuannya sederhana: memberi tahu mereka yang memiliki keterbatasan fisik serupa bahwa mereka tidak sendirian.
Dalam pandangan Junar, edukasi formal maupun nonformal memegang peranan vital. Ia mendorong generasi muda untuk terus belajar, baik melalui kuliah, bootcamp, maupun belajar otodidak. Namun, ia mengkritik keras pelatihan yang hanya menjual teori tanpa praktik nyata. Bagi seorang praktisi HR seperti dirinya, sertifikat semata tidak cukup meyakinkan pengguna jasa atau atasan.
"Sertifikasi bukan yang penting, tapi praktiknya. Ada praktik enggak di situ? Karena kalau teori doang semua orang juga bisa," tegas Junar. Ia berpendapat bahwa teori seharusnya sudah diselesaikan di bangku sekolah atau kampus. Setiap program pelatihan, baik dari pemerintah maupun swasta, wajib menyertakan sesi praktik agar kandidat benar-benar siap terjun ke dunia kerja.
Fleksibilitas menjadi kunci lain yang selalu ia sampaikan. Dunia berubah cepat, ditandai dengan munculnya teknologi seperti kecerdasan buatan yang dulu belum ada. Generasi sekarang dituntut adaptif dan tidak boleh terlalu idealis atau perfeksionis, terutama ketika sedang berjuang mencapai tujuan. Junar mengingatkan bahwa jalan hidup tidak pernah lurus, pasti ada belokan dan gelombang yang harus dinikmati.
Kariernya membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk diterima di dunia profesional. Selama ini, setiap perusahaan yang ia masuki menyambutnya dengan baik tanpa diskriminasi. Mereka memperlakukannya selayaknya karyawan umum lainnya. Pengalaman diterima dengan lapang dada inilah yang membuatnya yakin bahwa masa depan masih terbuka lebar bagi siapa saja yang mau berusaha dan terus belajar.






