Seorang pria berdiri termenung di bawah Sky Bridge Plaza Simpang Lima, Semarang. Tasnya kosong, tabungannya habis setelah setahun merantau ke Jakarta tanpa hasil. Usahanya tutup, dan ia kembali ke kota asal dengan tangan hampa. Di titik terendah itulah, pertemuan tidak sengaja dengan seorang teman mengubah seluruh arah hidupnya menuju industri properti.
Pria itu adalah Ali Sarbani. Kini di usia 48 tahun, ia dikenal sebagai pengembang perumahan yang sukses membangun proyek skala 50 hingga 200 unit per lokasi. Namun, jalan menuju kesuksesan tersebut sama sekali tidak mulus. Ali berasal dari keluarga petani di Kudus, Jawa Tengah, tanpa warisan bisnis atau pendidikan teknik sipil maupun arsitektur.
"Latar belakang dari keluarga petani, enggak ada background bisnis properti ya, enggak ada. Enggak pernah sekolah teknik, enggak pernah sekolah tentang bagaimana mendesain rumah dan sebagainya, enggak ada," ujar Ali mengenang masa lalunya.
Mimpi Masa Kecil dan Perjuangan Bertahan Hidup
Bibit ketertarikan Ali pada dunia bangunan sebenarnya sudah tumbuh sejak kecil. Ia sering melihat gambar rumah dan mobil di sketsel atau sekat ruangan milik ayahnya. Sang bapak pernah berpesan bahwa suatu hari anak-anaknya harus memiliki rumah dan kendaraan sendiri. Kalimat sederhana itu tertanam dalam alam bawah sadar Ali hingga dewasa.
Baca juga: Yohanes Henki: 25 Tahun Jadi Kontraktor Sukses Tanpa Modal Awal
Perjalanan kariernya dimulai tahun 1995 saat ia pindah ke Semarang untuk kuliah sambil bekerja. Krisis moneter 1997-1998 memukul telak usaha kakaknya, membuat Ali kehilangan sandaran ekonomi. Ia sempat mencoba berbagai lapangan pekerjaan, termasuk menjadi penjual ponsel bekas selama sepuluh tahun. Meski tekun, profesi itu tidak mampu memberikannya kepemilikan rumah sedikitpun.
Tahun 2009 menjadi tahun penuh gejolak. Ali memutuskan meninggalkan zona nyamannya di Semarang untuk merantau ke Jakarta bersama istri. Modal Rp65 juta yang dibawanya ludes dalam waktu satu setengah tahun. Berbagai skema bisnis online yang dijalaninya ternyata berujung pada kerugian. Ia pulang ke Semarang dengan kondisi finansial nol besar, bahkan lebih buruk dari saat ia pergi.
Kepulangan itu memaksanya mengambil keputusan drastis. Ali menutup semua usaha lamanya karena meyakini prinsip "bakar kapal" untuk benar-benar berubah nasib. Saat berdiri bingung di depan plaza tempat ia dulu berjualan, seorang teman mengajaknya menghadiri seminar properti. Meskipun biaya pendaftaran Rp100.000 saat itu terasa sangat berat, Ali akhirnya bisa masuk secara gratis berkat bantuan kenalan lama.
Baca juga: Jeremy Tanuardy: Ubah Kegagalan Pandemi Jadi Dokumenter Inspiratif
Dari Broker Pemula hingga Membangun Ratusan Unit
Ilmu dari seminar tersebut menjadi senjata utama Ali. Mentornya mengajarkan strategi menawar properti tanpa menggunakan uang sendiri. Bermodalkan keberanian, Ali menghubungi pemilik tanah dan menawar harga jauh di bawah permintaan. Dari tawaran awal Rp350 juta, ia berhasil menekan harga dan menjualkannya kembali dengan keuntungan Rp12 juta.
Keuntungan pertama itu ia putar kembali untuk membeli tiga unit rumah. Tahun 2012, ia mulai mengembangkan tiga unit perumahan. Angka itu terus meningkat menjadi 10 unit pada 2013. Memasuki 2014, Ali mulai mengerjakan proyek minimal 30 unit dengan luas lahan setengah hektare atau 5.000 meter persegi.
Namun, ujian kembali datang di tahun yang sama. Perubahan regulasi ekonomi pasca pergantian presiden membuat bisnisnya terguncang. Aset senilai Rp2 miliar lenyap, rumah dan mobil terpaksa dijual untuk menutupi kewajiban. Ali kembali ke posisi nol untuk kedua kalinya dalam perjalanan karirnya.
Keteguhan hati membuatnya bangkit lagi. Sejak 2020, ia fokus membangun bisnis sebagai pemain tunggal yang mandiri. Kini, perusahaan miliknya mempekerjakan sekitar 50 staf manajemen dan ratusan tukang di tujuh lokasi proyek berbeda. Ali membuktikan bahwa keterbatasan modal dan ilmu bukan halangan mutlak jika disertai kemauan belajar yang keras.
"Sebagai pengusaha properti saya mantap. Saya yakin bahwa ini jalan hidup saya dan saya akan kembangkan bisnis ini sebesar mungkin sehingga bisnis saya bisa menggurita," tegas Ali tentang komitmennya.
Bagi Ali, kesuksesan bukan sekadar soal akumulasi kekayaan pribadi. Ia melihat bisnis properti sebagai sarana membuka lapangan kerja bagi banyak orang. Semakin banyak proyek yang digarap, semakin banyak tenaga kerja yang terserap. Filosofi ini ia terapkan agar keberlimpahan harta yang didapat juga membawa keberkahan sebagai bekal kehidupan setelah mati.
Komitmen tersebut ia wujudkan dengan membagikan ilmunya kepada publik. Mengingat janjinya sendiri, Ali mendirikan kelas pelatihan developer sejak akhir 2016. Ia mengajarkan cara bisnis properti tanpa modal bank dan tanpa harus memiliki tanah terlebih dahulu. Tujuannya sederhana: memecah materi kuliah empat tahun menjadi kurikulum intensif dua hari yang praktis dan bisa langsung diterapkan oleh siapa saja.






