Moses pernah merasakan titik terendah dalam karier keuangannya. Seorang insinyur pertambangan lulusan universitas, ia kehilangan seluruh tabungan senilai lebih dari Rp500 juta hanya dalam beberapa tahun bermain saham. Uang hasil kerja keras di lokasi tambang Balikpapan ludes tak bersisa, menyisakan rasa mual dan stres yang mendalam.
Kegagalan itu bukan sekadar angka di layar komputer, melainkan pukulan telak bagi ego profesionalnya. Namun dari kehancuran portofolio tersebut, Moses bangkit dengan pendekatan baru yang lebih disiplin dan berbasis data. Kini, ia mengelola aset finansial sambil berkeliling dunia, membuktikan bahwa kegagalan bisa menjadi guru terbaik bagi mereka yang mau belajar.
Jebakan Ikut-ikutan dan Hilangnya Rp500 Juta
Perjalanan Moses di pasar modal dimulai pada 2011, setahun setelah ia lulus kuliah dan bekerja sebagai mine engineer. Awalnya, ia hanya ingin mencari sumber pendapatan tambahan melalui reksadana. Manajer investasi saat itu menjelaskan bahwa dana nasabah dialokasikan ke saham, memicu keingintahuan Moses untuk mencoba langsung.
Baca juga: Hendy Tanuardy: Dari Nyaris Bangkrut di Jakarta Jadi Mentor Ribuan Trader
Pada 2013, ia mengikuti pendidikan di Sekolah Pasar Modal Bali Papua setiap akhir pekan. Materi yang didapatkannya sederhana: beli saham perusahaan yang dikenal luas. Moses membeli sebuah saham perbankan di harga Rp7.000 per lembar. Seminggu kemudian, harga anjlok ke Rp1.000. Ia panik dan segera menjualnya untuk membatasi kerugian.
Ironisnya, setelah ia menjual, harga saham tersebut terbang tinggi. Pengalaman ini memicu obsesinya untuk mempelajari pasar lebih dalam. Situasi memburuk pada 2016 ketika aplikasi pesan instan Telegram marak dengan grup-grup diskusi saham. Moses tergabung dalam salah satu grup yang dipimpin oleh sosok yang dianggap ahli atau "suhu".
Ia blindly following rekomendasi dari grup tersebut tanpa analisis mandiri. Setiap kali disarankan membeli, ia menurut. Harga turun, ia beli lagi rata bawah. Siklus ini berulang hingga tabungannya kering. Moses harus melakukan top up dari gaji bulananวิศวกรnya, yang juga habis dalam sekejap.
Baca juga: Dari Tragedi WTC hingga COVID: Kisah Trader yang Konsisten Profit
"Sampai modar lah ya, sampai habis tabungan... rugi Rp500 juta lebih. Semua tabungan waktu saya profesional sebagai mine engineer tuh habis," kenang Moses mengenang masa kelamnya.
Rasa mual akibat stres finansial menghantuinya setiap hari. Puncaknya terjadi ketika ia menyadari bahwa sementara indeks saham Indonesia (IHSG) sedang menguat, portofolionya justru hancur lebur. Momen itu menjadi tamparan keras bahwa masalahnya bukan pada pasar, melainkan pada dirinya sendiri yang minim ilmu dan strategi.
Bangkit dengan Data dan Manajemen Risiko
Moses mengambil jeda total pada 2018 untuk menenangkan diri dan mengevaluasi kesalahan. Tekad untuk mengembalikan uang yang hilang membakar semangatnya untuk belajar secara serius. Ia melahap berbagai buku tentang analisis fundamental dan teknikal, serta mengikuti kursus daring maupun luring hingga ke materi dari Amerika Serikat.
Pada 2019, ia mulai masuk kembali ke pasar dengan sangat pelan, memulai dari nol dengan sisa tabungan yang ada. Pandemi COVID-19 pada awal 2020 menjadi ujian berikutnya. Saat banyak orang panik karena pasar runtuh, Moses justru melihat pola. Ia memanfaatkan waktu work from home untuk mendalami statistik dan penerapan machine learning dalam analisis saham.
Ia menyadari bahwa pergerakan harga saham memiliki pola aliran dana atau flow yang bisa dilacak. Bersama rekan yang ahli pemrograman, Moses mengembangkan alat bantu berupa bot analisis yang terintegrasi dengan Telegram. Alat ini mampu menyaring ribuan emiten berdasarkan empat pilar utama: valuasi fundamental, valuasi harga teknikal, valuasi transaksi, dan identifikasi pelaku pasar atau bandar.
Dengan alat tersebut, proses analisis yang sebelumnya memakan waktu tiga hingga empat jam setiap malam kini cukup dilakukan dalam lima menit. Efisiensi ini memberinya kebebasan waktu. Sejak 2021, Moses menjalani gaya hidup digital nomad, berpindah dari kampung halamannya di Samosir, menetap di BSD, Yogyakarta, hingga menjelajahi pulau Jawa dan Bali.
Keyakinan terhadap sistem barunya membawanya berkeliling benua Amerika pada 2022. Ia mengunjungi Brasil, Peru, Chile, Bolivia, dan Argentina. Selama perjalanan tersebut, ia tetap memantau pasar dan menghasilkan penghasilan hanya menggunakan ponsel pintar. Saham-saham yang ia beli sejak IPO pun terus dipantau akumulasinya melalui alat bantu ciptaannya.
Moses menekankan bahwa pasar finansial menawarkan peluang besar, namun sekaligus menjadi ancaman bagi mereka yang tidak siap. Menurutnya, ketidaktahuan adalah risiko terbesar dalam bisnis maupun investasi.
"Kalau kita enggak tahu ilmunya itu jadi tantangan besar. Dan kalau kita enggak ada tools-nya jadi ancaman besar. Itu yang terjadi waktu saya di awal-awal masuk," tegas Moses.
Kisah Moses mengajarkan bahwa kesuksesan dalam trading bukan tentang keberuntungan sesaat, melainkan kesiapan ilmu dan pengelolaan risiko yang ketat. Kehilangan Rp500 juta adalah harga mahal yang harus dibayar untuk sebuah kesadaran. Bagi para pemula, pesan utamanya jelas: jangan pernah memasuki arena pertarungan uang tanpa bekal pengetahuan dan strategi yang teruji.






