Stewart Leo pernah berada di titik terendah ketika uang Rp80 juta yang dikumpulkannya hilang sekejap akibat penipuan saudara sendiri. Modal usaha toko mainan pertamanya lenyap sebelum sempat menghasilkan keuntungan berarti. Pria berusia 28 tahun itu tidak menyerah meski harus menanggung utang dan memulai semuanya dari nol lagi. Kini, ia berdiri kokoh sebagai pendiri dan CEO Firstwave Coffee yang berlokasi di daerah Peluit.
Perjalanan Leo bukanlah garis lurus yang mulus sejak awal. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan ayah seorang pebisnis dan ibu rumah tangga yang pernah hampir menjualnya saat terlilit hutang parah. Pengalaman pahit masa kecil itu justru menempa mentalnya untuk tidak mudah mengeluh meski sering diusir dari kontrakan karena telat bayar. Leo belajar bahwa disiplin lebih penting daripada motivasi sesaat yang mudah padam.
Membangun Bisnis dari Nol dan Kegagalan Pertama
Minat dagang Leo sudah terlihat sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar dengan menjual permen hingga es cendol saat SMP. Pernah dalam lima hari berjualan es cendol, ia meraup hampir Rp10 juta, angka yang fantastis untuk ukuran anak SMP kala itu. Namun, jalan menuju kesuksesan bisnis formal penuh kerikil tajam setelah ia lulus kuliah dan ingin merintis usaha serius.
Baca juga: Strategi Properti Azhari: Belajar dari Kegagalan hingga Sukses
Ia memulai dengan membuka toko mainan bernama Evocit Indonesia setelah belajar konsep dari saudara ibunya di Medan. Awalnya ia berencana menjual secara online untuk mengumpulkan modal dekorasi toko fisik. Sayangnya,信任nya disalahgunakan ketika ia mengirimkan uang Rp80 juta kepada saudaranya tersebut, namun barang tidak pernah dikirim dan uang itu hilang begitu saja.
"Titik terendah enggak sih masih ada beberapa poin lagi cuman dari situ saya belajar kayak apa ya enggak mudah jalannya untuk bikin toko mainan itu," kenang Leo mengenai kejadian tersebut.
Kehilangan itu memaksanya memutar otak dan bekerja lebih keras selama lima tahun berikutnya untuk menutupi kerugian dan utang. Bisnis mainan tersebut akhirnya berjalan autopilot, namun seluruh dana yang terkuras habis dipindahkan untuk mewujudkan mimpi barunya di industri kopi. Leo menyadari bahwa berhenti bukan opsi ketika ia melihat lantai konstruksi kafenyang belum selesai dan belum memiliki staf.
Filosofi Firstwave Coffee dan Tantangan Industri F&B
Gagasan mendirikan Firstwave Coffee sebenarnya sudah mengendap dalam pikiran Leo selama enam hingga tujuh tahun terakhir. Eksekusi nyata baru terjadi pada Juni 2024 ketika ia mengajak Michael, seorang headbarista yang ditemuinya saat nongkrong di sebuah kedai kopi. Mereka sepakat menciptakan sesuatu yang berbeda di tengah persaingan bisnis kopi yang semakin menjamur di Jakarta.
Baca juga: Dari Sering Kasbon Jadi Pengusaha Working Space Tanpa Modal
Firstwave Coffee menawarkan konsep unik seperti coffee mocktail dan penyajian beans dengan cara yang berbeda dari kompetitor. Fasilitas tempat ini dirancang untuk kenyamanan berbagai kalangan, mulai dari ruang meeting, area khusus perokok indoor, hingga zona bebas asap rokok. Leo bahkan instruct stafnya untuk menyediakan kabel extension agar pelanggan yang bekerja menggunakan laptop merasa betah berlama-lama.
Tantangan terbesar muncul tepat setelah grand opening ketika seluruh staf inti yang direkrut awalnya memutuskan keluar satu per satu. Leo harus turun tangan langsung menangani operasional, melayani pelanggan, hingga membersihkan area kafe sendirian di malam hari. Ia mengaku sering menyapu lantai setengah malam demi memastikan kebersihan tempat usahanya sebelum hari berikutnya dimulai.
"Kalau saya berhenti sekarang atau apa, gak ada yang mindahin kursi segala macam ke sini setengah malam saya nyapu di sini sendiri," ujar Leo menggambarkan keteguhan hatinya di masa sulit.
Meski menghadapi tekanan finansial dan kekurangan SDM, Leo menolak untuk putus asa karena yakin visinya akan tercapai suatu saat nanti. Ia menekankan pentingnya membuang gengsi dan berani meminjam uang saat kondisi darurat demi menyelamatkan bisnis yang sudah setengah jalan dibangun. Bagi Leo, setiap masalah adalah pelajaran baru yang membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dibanding dua atau tiga tahun lalu.
Kini, Firstwave Coffee terus bangkit dan menjadi bukti nyata ketekunan seorang mantan steward yang berani bermimpi besar. Leo berharap nama Firstwave dapat dikenal luas di seluruh Jakarta sebagai simbol kualitas dan ketahanan usaha lokal. Ia percaya bahwa ujung dari perjuangan berat biasanya akan memberikan hasil yang lebih indah dari ekspektasi awal.






