Jadi Inspirasi
Jadi Inspirasi
Koleksi Buku Inspirasi Bisnis Terbaik
Karir & Pengembangan Diri

Rugi Rp500 Juta, Mantan Engineer Tambang Bangkit Jadi Trader Global

Kisah Moses, engineer tambang yang kehilangan tabungan ratusan juta saat trading saham, lalu bangkit membangun sistem analisis sendiri hingga bisa kerja dari mana saja.

(23 Februari 2026)
4 menit baca
Rugi Rp500 Juta, Mantan Engineer Tambang Bangkit Jadi Trader Global
Ilustrasi Rugi Rp500 Juta, Mantan Engineer Tambang Bangkit Jadi Trader.
Hampers Ramadan Premium

Moses pernah merasakan titik terendah dalam hidupnya sebagai seorang profesional. Tabungan hasil kerja kerasnya sebagai insinyur tambang ludes tak bersisa, habis untuk menutupi kerugian di pasar saham.

Pria asal Samosir, Sumatera Utara ini kehilangan lebih dari Rp500 juta dalam waktu singkat. Rasa mual dan stres menghantui setiap kali ia mengingat keputusan impulsif yang diambilnya tanpa bekal ilmu yang memadai.

Kini, narasi hidupnya berubah total. Moses tidak lagi terikat pada satu lokasi kerja atau terjebak dalam rutinitas analisis manual yang memakan waktu berjam-jam setiap malam.

Baca juga: Melampaui Batas Pikiran: Kisah Edwin Anderson dan Revolusi Web Programming Hack Menuju Karier Global

Ia kini mengelilingi benua Amerika, mulai dari Brazil, Peru, Chile, Bolivia, hingga Argentina, sambil tetap memantau portofolio investasinya hanya melalui telepon genggam. Perjalanan dari kebangkrutan menuju kebebasan finansial ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari evaluasi diri yang mendalam.

Jebakan Ikut-ikutan dan Hilangnya Setengah Miliar Rupiah

Perjalanan Moses di dunia pasar modal dimulai pada tahun 2011, tak lama setelah ia lulus kuliah dan bekerja di sektor pertambangan. Awalnya, ia hanya menaruh uang di reksadana sebelum akhirnya tertarik membeli saham secara langsung setelah melihat manajer investasinya melakukan hal serupa.

Pada 2013, ia resmi mempelajari pasar modal melalui Sekolah Pasar Modal di Balikpapan setiap akhir pekan. Motivasi utamanya sederhana: mengejar imbal hasil tinggi yang sering didengung-dengungkan banyak orang.

Baca juga: Gagal Caleg dan Ditipu 100 Juta, Agus Prianto Temukan Jalan Pulih Lewat Lukisan

Namun, pengetahuan dasar tersebut tidak cukup melindunginya dari volatilitas pasar. Moses mengakui bahwa ia sering terjebak dalam emosi sesaat, membeli saat harga naik dan panik menjual saat harga turun.

Situasi semakin memburuk pada 2016 ketika ia bergabung dengan berbagai grup diskusi saham di Telegram. Di sana, ia sering mengikuti rekomendasi dari sosok yang dianggap ahli tanpa melakukan analisis mandiri.

"Kita masuk satu grup, ada suhunya di situ, kita ikut. Beli-beli katanya kita, ya udah kita beli. Turun, turun, turun, katanya ya sudah. Sampai seringan kayak gitu, sampai modarlah, sampai habis tabungan."

Strategi ikut-ikutan itu berujung fatal. Tabungan yang dikumpulkan dari gaji sebagai main engineer habis terkuras. Ia bahkan harus melakukan top up berulang kali ke rekening dana nasabah (RDN) hingga benar-benar kosong.

Puncaknya terjadi pada 2018 ketika ia menyadari portofolionya hancur lebur, padahal indeks saham gabungan (IHSG) saat itu sedang dalam kondisi baik. Moses sadar bahwa masalahnya bukan pada bursa, melainkan pada dirinya sendiri yang tidak memiliki ilmu dan sistem yang benar.

Membangun Sistem Sendiri dari Nol

Rasa sakit akibat kehilangan Rp500 juta menjadi bahan bakar bagi Moses untuk bangkit. Ia mengambil jeda sejenak dari aktivitas trading aktif, namun tidak berhenti belajar.

Dengan tekad kuat untuk mengembalikan uang yang hilang, ia mendalami berbagai literatur, mengikuti kursus online maupun offline, hingga mempelajari metode analisis dari pasar Amerika Serikat. Ia membaca buku-buku tentang analisis fundamental dan teknikal secara menyeluruh.

Pada 2019, Moses mulai kembali memasuki pasar dengan sangat pelan-pelan, memulai lagi dari nol. Kali ini, ia menolak untuk bertindak gegabah seperti sebelumnya. Ia menunggu momen yang tepat sambil terus mengasah kemampuan.

Pandemi COVID-19 pada awal 2020 justru membuka peluang baru baginya. Saat banyak orang bekerja dari rumah, Moses memanfaatkan waktu untuk mempelajari penerapan machine learning dan kecerdasan buatan (AI) dalam analisis saham.

Ia bekerja sama dengan teman yang mampu membuat skrip pemrograman untuk mengembangkan alat bantu analisis khusus. Alat ini dirancang untuk melakukan backtest terhadap pergerakan saham masa lalu, termasuk saham-saham yang pernah memberikan keuntungan fantastis hingga 8.000 persen.

Hasilnya adalah sebuah platform berbasis bot Telegram bernama IT3X. Alat ini memungkinkan Moses menganalisis pasar secara komprehensif hanya dalam hitungan menit, mencakup empat pilar utama: valuasi fundamental, valuasi harga teknikal, valuasi transaksi arus dana, dan valuasi pembuat pasar atau bandar.

"Semenjak itulah saya keliling benua Amerika... saya tetap dapat penghasilan dari market gitu karena saya bisa monitor cuma pakai HP aja tuh. Eh kayak cuman bentar doang gitu, habis itu, oh masih on track."

Dikutip dari Jadi Inspirasi / Sekali Seumur Hidup (YouTube)

Bagikan artikel ini

Komentar

Pelatihan Trading Saham