Jose Sualang mengaku dulunya adalah seorang berandal yang sering merusak lingkungan. Kini di usia hampir 60 tahun, pria tersebut mendedikasikan hidupnya untuk menjadi healer atau penyembuh bagi orang lain. Perjalanan panjangnya membuktikan bahwa masa lalu kelam bukan penghalang untuk berbuat baik.
Ia menyadari bahwa semua manusia berasal dari satu energi pencipta yang sama. Perbedaan fisik hanyalah permukaan, sedangkan tujuan kembali pada sang pencipta adalah satu. Filosofi ini menjadi landasan utamanya dalam melayani sesama tanpa memandang latar belakang.
Runtuhnya Bisnis dan Awal Pencarian Diri
Pendidikan formal Jose cukup mumpuni dengan riwayat pernah menempuh dua fakultas sekaligus, yaitu kedokteran dan hukum. Karir profesionalnya dimulai di Astra selama sepuluh tahun hingga menduduki posisi kepala cabang. Ia kemudian banting setir ke bisnis foto studio yang berkembang pesat sebelum akhirnya gulung tikar akibat gelombang digitalisasi.
Baca juga: Rugi Rp500 Juta, Mantan Engineer Tambang Bangkit Jadi Trader Global
Kegagalan bisnis foto studio menjadi pukulan pertama yang membuatnya terpuruk. Tidak menyerah, ia membuka toko hewan peliharaan atau pet shop di Gajah Mada Plaza yang cukup ramai. Kesuksesannya mengelola tempat itu membuat direksi plaza mempercayainya mengurus food court seluas 800 meter persegi di Jalan DS Susilo Raya, Grogol.
Namun, kesuksesan materi tidak serta merta membawa ketenangan batin. Jose mengakui bahwa pada masa memiliki pet shop, emosinya sangat tidak stabil. Ia sering marah-marah, mengomel, dan mudah terlibat pertengkaran karena masih terbawa suasana masa muda yang keras.
Untuk mengatasi ledakan emosi tersebut, Jose memutuskan belajar meditasi bersama seorang guru. Langkah ini menjadi pintu gerbang perubahan besar dalam hidupnya. Seorang teman kemudian mengajaknya mempelajari hipnoterapi sebagai lanjutan dari praktik meditasi yang sudah ia geluti.
Baca juga: Melampaui Batas Pikiran: Kisah Edwin Anderson dan Revolusi Web Programming Hack Menuju Karier Global
"Katanya kalau sudah meditasi belajar itu lebih enak, lebih bagus bisa ngembangin diri dan yang saya tertariknya bisa membantu orang lain," ujar Jose mengenai alasan dirinya mendalami ilmu terapi.
Ketertarikan untuk menolong orang lain mendorongnya menguasai berbagai disiplin ilmu penyembuhan. Ia mempelajari Access Bars, Linking Awareness, Javanis Magnetism, hingga Profiling Universe. Kombinasi lima ilmu tersebut ia gunakan untuk menerapi teman-teman yang membutuhkan bantuan pemulihan mental dan spiritual.
Ujian Kehilangan dan Fondasi Kebaikan
Jalan sebagai healer tidak selalu mulus bagi Jose. Empat tahun lalu, kakak tertuanya meninggal dunia akibat kanker otak. Setahun berselang, kakak keduanya juga berpulang karena kanker tulang yang menyebabkan seluruh tulangnya patah. Kondisi ini menghantam Jose hingga ke titik terendah dalam hidupnya.
Ia merasa gagal total karena mampu memberikan solusi bagi banyak klien,却无法 menyelamatkan saudara kandungnya sendiri. Perasaan terpuruk itu sempat membuatnya berhenti sejenak dari aktivitasnya. Namun, ia sadar bahwa terus merenungi kegagalan hanya akan menghalangi langkah untuk menolong orang lain lagi.
Jose bangkit kembali dengan membawa pesan almarhum ayahnya, Hendang Nikodemus Hendalang, yang wafat pada 26 Agustus 2012. Sang ayah selalu menekankan tiga larangan utama demi kesuksesan hidup: jangan berjudi, jangan menggunakan narkoba, dan jangan menghamili wanita sebelum menikah.
Pesan terakhir tentang larangan menghamili sebelum nikah memiliki makna filosofis mendalam bagi Jose. Ayahnya menjelaskan bahwa hubungan yang didasari hanya oleh nafsu tanpa cinta yang teruji akan menghasilkan fondasi yang rapuh. Prinsip ini mengajarkan Jose pentingnya membangun dasar yang kuat sebelum melakukan apa pun dalam hidup.
Ayahnya juga menanamkan nilai bahwa kebaikan yang ditanam akan berkelanjutan hingga ke anak cucu. Uang bisa habis di meja judi, buku bisa hangus terbakar, namun reputasi kebaikan seseorang akan tetap dikenang dan membuka jalan bagi keturunannya. Warisan inilah yang kini menjadi kompas moral Jose.
Kunci utama menghadapi masalah menurut Jose adalah bersahabat dengan diri sendiri. Ia menilai banyak orang mencari kelengkapan hidup ke luar diri, padahal separuh lingkaran lainnya ada di dalam. Mengenali diri sendiri membuat seseorang menjadi utuh dan siap menggelinding ke arah tujuan yang diinginkan.
"Kita sudah jadi juara di tahap pembuahan... sangat enggak etis kalau lu terusnya mengalah dengan keadaan yang lu terima saat ini," tegas Jose menyemangati agar tidak mudah menyerah pada nasib.
Sosok yang pernah aktif sebagai ketua OSIS, senator mahasiswa, hingga ketua lingkungan gereja ini menolak konsep pensiun dini. Baginya, berhenti belajar dan berbagi sama artinya dengan jatuh. Ia ingin terus menularkan ilmunya agar bumi menjadi tempat yang lebih baik tanpa perang dan kelaparan.
Jose juga menyayangkan dampak gadget yang membuat manusia semakin individualis. Ia melihat anak-anak di food court lebih peduli pada layar ponsel daripada interaksi sosial di sekitarnya. Meski demikian, ia menyarankan penggunaan teknologi secara cerdas atau smart, bukan menggantungkan seluruh kehidupan pada perangkat tersebut.
Hingga hari ini, Jose merasakan alam semesta mendukung langkahnya. Semakin banyak orang yang terbantu, semakin mudah pula jalan yang ia tempuh. Kebahagiaan sejati baginya adalah melihat rekan-rekan pedagang di food court sukses dan berkelimpahan bersama-sama.






