Jadi Inspirasi
Jadi Inspirasi
Koleksi Buku Inspirasi Bisnis Terbaik
Karir & Pengembangan Diri

Junar: Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang Sukses Karier

Kisah Junar, praktisi HR disabilitas yang membuktikan lumpuh sejak SD tidak menghalangi karier. Pelajaran berharga tentang edukasi dan adaptasi.

(8 Januari 2026)
4 menit baca
Junar: Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang Sukses Karier
Ilustrasi Junar: Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang Sukses Karier.
Hampers Ramadan Premium

Junar pernah lumpuh total mulai dari kelas 2 SD hingga akhir SMA kelas 1. Diagnosa dokter menyebut pertumbuhannya terhambat, memaksanya menghabiskan waktu hampir sebulan di rumah sakit saat masih kecil. Kondisi fisik itu bukan lahir bawaan, melainkan datang di tengah masa pertumbuhan yang seharusnya penuh aktivitas.

Kini, pria lulusan Psikologi Universitas Pelita Harapan tahun 2018 ini bekerja sebagai HR Generalis di sebuah startup teknologi bernama Edutchek. Ia menjalani pekerjaan tersebut secara fully remote selama hampir empat tahun terakhir. Di luar jam kerja, Junar aktif membuat konten dan memberikan bimbingan karier atau career coaching bagi pencari kerja.

Mendobrak Keraguan dengan Fokus pada Dukungan

Perjalanan Junar menuju dunia profesional tidak lepas dari sorotan skeptis orang sekitar. Saat ia menetapkan tujuan atau cita-cita tertentu, sering kali muncul pertanyaan meragukan mengenai kemampuannya untuk mencapainya. Teman-teman dekat pun sempat bertanya apakah ia benar-benar sanggup mewujudkan impian tersebut.

Baca juga: Rugi Rp500 Juta, Mantan Engineer Tambang Bangkit Jadi Trader Global

Menghadapi situasi itu, Junar memilih strategi mental yang spesifik. Ia menyadari bahwa meratapi masalah tidak akan menyelesaikan apa pun. Sebaliknya, ia mengalihkan perhatian kepada mereka yang tetap memberikan dukungan positif.

"Percayalah yang ngata-ngatain kita biasanya bukan orang-orang yang membiayai hidup kita, kan. Jadi buat apa yang biayain hidup kita aja enggak pernah ngatur-ngatur kayak gitu."

Filosofi ini membantunya tetap bergerak maju meski jalan kehidupan tidak selalu lurus. Junar mengakui adanya gelombang dan belokan tajam dalam perjalanan karier. Kuncinya adalah menikmati proses, beristirahat saat lelah, namun menolak untuk menyerah.

Pengalaman pribadi menjadi modal utama saat ia melayani klien coaching. Ketika bertemu individu dengan kondisi fisik serupa, Junar dapat memberikan validasi bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Empati ini lahir dari pengalaman nyata, bukan sekadar teori buku teks.

Baca juga: Melampaui Batas Pikiran: Kisah Edwin Anderson dan Revolusi Web Programming Hack Menuju Karier Global

Pentingnya Praktik Dibanding Sekadar Teori

Dalam pandangan Junar, edukasi merupakan fondasi utama keberhasilan karier, baik melalui jalur formal maupun nonformal. Ia mendorong masyarakat untuk terus belajar, entah itu lewat kuliah, sekolah, bootcamp, atau belajar mandiri secara otodidak. Namun, ia menekankan satu hal krusial yang sering terlewatkan dalam sistem pelatihan saat ini.

Menurutnya, sertifikat semata tidak menjamin kompetensi seseorang di mata pengguna jasa atau user. Banyak program pelatihan yang hanya menyajikan teori tanpa sesi praktik yang memadai. Hal ini membuat peserta sulit meyakinkan HRD atau founder perusahaan saat melamar kerja.

Junar menegaskan bahwa teori seharusnya sudah diselesaikan di bangku sekolah atau perkuliahan. Dunia kerja membutuhkan bukti kemampuan nyata melalui tindakan. Oleh karena itu, setiap program pengembangan sumber daya manusia wajib menyertakan komponen praktik sebagai bagian mayoritas dari kurikulum.

"Kalau teori doang semua orang juga bisa gitu," ujarnya menyoroti kelemahan umum dalam pelatihan konvensional. Tanpa praktik, kepercayaan terhadap kemampuan kandidat akan sulit terbangun. Pendekatan ini ia terapkan sendiri saat membimbing para fresh graduate dan pekerja yang ingin berpindah karier.

Selain aspek teknis, Junar juga mengingatkan pentingnya fleksibilitas menghadapi perubahan zaman. Dulu, teknologi canggih hanyalah kalkulator di masa kuliahnya. Kini, kecerdasan buatan atau AI telah menjamur di berbagai sektor. Profesional dituntut untuk tidak terlalu idealis atau perfeksionis, terutama ketika sedang berjuang meniti karier.

Adaptasi menjadi kunci bertahan di tengah lanskap pekerjaan yang berubah cepat. Junar sendiri memulai konten kreasi awalnya seputar psikologi umum sebelum akhirnya mengerucut pada topik HR demi membantu mereka yang kesulitan mencari kerja saat pandemi. Langkah pragmatis ini justru membuka peluang baru yang lebih luas.

Keterbatasan fisik yang pernah membuatnya menggunakan kursi roda bertahun-tahun tidak mendefinisikan batas potensi profesionalnya. Perusahaan-perusahaan tempat ia bekerja menerima kehadirannya tanpa diskriminasi, memperlakukannya selayaknya karyawan lainnya. Sikap inklusif lingkungan kerja tersebut membuktikan bahwa kompetensi jauh lebih berbicara daripada kondisi fisik.

Pesan penutup Junar sederhana namun menohok bagi siapa saja yang merasa stuck. Titik terendah memang pasti ada, terutama ketika segala cara sudah ditempuh namun hasil belum terlihat. Solusinya adalah membuka diri untuk belajar dari orang lain yang lebih berpengalaman, karena seringkali ada celah pengetahuan yang terlewatkan akibat enggan bertanya.

Dikutip dari Jadi Inspirasi / Sekali Seumur Hidup (YouTube)

Bagikan artikel ini

Komentar

Pelatihan Trading Saham