Seorang siswa kelas 6 sekolah dasar di Indonesia berhasil merakit alat kendali permainan atau gaming controller secara mandiri. Abel, demikian nama anak tersebut, tidak memiliki latar belakang pendidikan teknik formal maupun akses ke peralatan laboratorium canggih. Ia hanya bermodalkan laptop bekas spesifikasi rendah dan rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia teknologi.
Proses penciptaan ini bermula ketika Abel melihat konten di YouTube tentang simulasi coding. Ia tertarik untuk meniru apa yang dilihatnya, meski awalnya bingung harus memulai dari mana. Keinginan kuat itu mendorongnya untuk bertanya kepada sang ayah apakah boleh mencoba membuat alat serupa.
Peran Kecerdasan Buatan dalam Pembelajaran Mandiri
Langkah krusial dalam perjalanan Abel adalah pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Pada tahun 2023, saat usianya menginjak 9 tahun, Abel mulai mengenal platform ChatGPT. Ia mengamati bagaimana orang dewasa memanfaatkan alat ini untuk berbagai keperluan, termasuk pembuatan kode program.
Baca juga: Calvin Hadi: Mengubah Passion Motor Custom Menjadi Bisnis Helm Berkualitas
"Aku pertama kali pakai AI itu ChatGPT. Aku itu pas kalau enggak salah 2023 itu tu pas aku 9 tahunan. Terus kan aku lihat papa pakai terus e aku lihat orang-orang pakai ChatGPT jadi aku coba sendiri," ujar Abel menceritakan awal mula keterlibatannya dengan teknologi coding.
Melalui interaksi dengan AI tersebut, Abel belajar memahami logika pemrograman yang diperlukan untuk menghidupkan controller buatannya. Ia tidak menunggu guru datang ke kelas untuk menjelaskan konsep rumit tersebut. Sebaliknya, ia aktif menggali informasi sendiri melalui tanya jawab dengan mesin pintar itu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hambatan teknis dalam mempelajari ilmu komputer kini semakin tipis. Seorang anak berusia sembilan tahun pun mampu menyerap konsep assembly coding jika diberikan akses dan metode yang tepat. Teknologi AI berperan sebagai mentor pribadi yang tersedia sepanjang waktu tanpa biaya mahal.
Dukungan Orang Tua di Tengah Keterbatasan Ekonomi
Kisah Abel tidak lepas dari peran vital kedua orang tuanya, Alan dan Uli. Mereka menyadari potensi anak sejak dini dan berusaha memfasilitasi minat tersebut meskipun kondisi keuangan keluarga sedang tidak stabil. Sang ayah bekerja sebagai teknisi dengan penghasilan berbasis proyek yang kadang tidak menentu.
Baca juga: Dari Rasa Gagal Lahir Dokumenter Sekali Seumur Hidup
Pada masa pandemi COVID-19, keluarga ini sempat mengalami kesulitan ekonomi yang cukup berat. Ayah Abel bahkan harus menggunakan laptop bekas miliknya sendiri untuk kebutuhan kerja, yang kemudian dialihkan untuk belajar anaknya. Ketika laptop tersebut terasa lambat untuk menjalankan program coding, Abel meminta spesifikasi yang lebih tinggi.
Permintaan untuk membeli komputer dengan prosesor i7 menjadi tantangan tersendiri mengingat harganya yang mencapai jutaan rupiah. Orang tua Abel tidak langsung menolak, melainkan mengajak anaknya berdiskusi dan mencari solusi bersama. Mereka akhirnya sepakat untuk menabung demi membeli perangkat PC rakitan yang lebih terjangkau namun mumpuni.
"Banyak cara untuk membuat anak kita bisa mendapatkan apa yang dia mau tapi dengan cara yang sederhana. Tidak perlu mewah, tidak perlu canggih. Yang kita garis bawahi adalah esensi ilmu itu bisa didapat oleh dia," tegas Alan, ayah Abel, menekankan pentingnya substansi pendidikan dibanding fasilitas fisik.
Keterbukaan komunikasi antara orang tua dan anak menjadi kunci utama dalam proses ini. Alan mengakui bahwa ia tidak menguasai seluruh aspek perangkat lunak atau electrical engineering secara mendalam. Namun, ia tetap menyediakan waktu untuk mendengarkan ide-ide liar anaknya dan mencari jawaban bersama.
Ibu Abel, Uli, mengambil peran dalam mendampingi proses pencarian materi belajar sehari-hari. Pembagian tugas ini memastikan Abel selalu memiliki tempat bertumbuh untuk mengembangkan minatnya pada sains dan teknologi. Sejak kecil, Abel memang sudah terbiasa menonton video edukasi tentang anatomi tubuh manusia dan fenomena alam di YouTube.
Kisah Abel memberikan pelajaran berharga bagi sistem pendidikan dan pola asuh di Indonesia. Bahwa inovasi teknologi tidak harus menunggu fasilitas lengkap dari sekolah atau pemerintah. Dengan dukungan orang tua yang responsif dan pemanfaatan teknologi digital yang tepat, setiap anak berpotensi menjadi inovator muda.






