Azhari pernah berada di titik terendah dalam kariernya sebagai pengembang perumahan. Ia mengambil alih proyek yang macet, berharap bisa memutar balik keadaan dengan cepat. Namun, realitas di lapangan jauh lebih keras dari prediksi awal. Masalah menumpuk, penjualan stagnan, dan posisi keuangannya minus.
Momen itu menjadi guru terbesar baginya. Ia menyadari bahwa mengandalkan tim penjualan internal atau agen properti besar saja tidak cukup. Struktur biaya yang tinggi dan proses yang rumit justru menghambat pergerakan. Di tengah kebuntuan itulah, ia menemukan pola baru yang mengubah nasib bisnisnya.
"Saya ngerasa gimana caranya kita buat proses itu simpel tapi komisinya tetap besar. Enggak harus een-agen yang sudah besar gitu bantu kita jualan."
Kegagalan Sebagai Dasar Inovasi Sistem
Pengalaman pahit menangani proyek macet memaksa Azhari berpikir ulang tentang ekosistem penjualan properti. Selama ini, industri properti menuntut agen untuk melakukan semuanya mulai dari sebar brosur, mendampingi konsumen survei, mengurus berkas bank, hingga akad kredit. Proses panjang ini membuat banyak orang potensial mundur sebelum mencoba.
Baca juga: Bobi: Sulap Properti Mangkrak Jadi Cuan Ratusan Juta di Usia Muda
Azhari melihat celah di mana banyak orang membutuhkan penghasilan tambahan tetapi terkendala oleh rumitnya prosedur tersebut. Saat pandemi COVID-19 melanda, kebutuhan akan pendapatan ekstra semakin mendesak bagi banyak keluarga yang terkena PHK atau kehilangan sandaran ekonomi. Ia ingin membantu mereka sekaligus menyelamatkan bisnis propertinya.
Solusinya adalah menyederhanakan peran penjual. Azhari menciptakan sistem di mana siapa saja bisa menjual properti hanya dengan berbagi konten di media sosial. Mereka tidak perlu repot mengurusi administrasi atau mendampingi klien sampai tandatangan akad. Tugas mereka cukup membagikan informasi, sementara tim inti Azhari yang menangani teknis hingga closing.
Strategi ini membuka pintu bagi kalangan yang sebelumnya tidak tersentuh industri properti. Ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga karyawan swasta mulai bergabung sebagai mitra pemasaran. Mereka tertarik karena fleksibilitas waktu dan potensi komisi dua digit yang menjanjikan tanpa harus meninggalkan kewajiban utama mereka.
Kekuatan Jaringan Ibu Rumah Tangga
Di luar dugaan Azhari, kelompok yang paling antusias dan produktif ternyata adalah para ibu rumah tangga. Awalnya, ia khawatir mengenai kesenjangan teknologi atau kemampuan digital pada kelompok usia tertentu. Namun, semangat mereka untuk membantu ekonomi keluarga mengalahkan segala keterbatasan teknis.
Banyak dari mereka yang awalnya gaptek terpaksa belajar menggunakan aplikasi perpesanan dan media sosial demi mendapatkan penghasilan. Ada yang memanfaatkan grup arisan, komunitas pengajian, hingga lingkaran pertemanan suami untuk menawarkan unit perumahan. Jaringan sosial yang kuat menjadi aset tak ternilai yang tidak dimiliki oleh agen konvensional.
"Artinya benar-benar emak-emak itu netizen terkuat di muka bumi. Benar mereka sangat antusias dan belajarnya cepat dan mereka bisa melakukan apapun baik online ataupun offline."
Salah satu kisah sukses datang dari Ima, seorang ibu rumah tangga yang suaminya berhenti bekerja pasca pandemi. Awalnya ia mencoba afiliasi produk ritel dengan komisi kecil, hingga akhirnya bertemu dengan sistem Azhari. Hanya bermodalkan ponsel dan kemampuan update status, Ima mampu menutup penjualan beberapa unit setiap bulan.
Ima tidak perlu pergi ke lokasi proyek atau pusing memikirkan proses KPR. Tim Azhari mengambil alih semua beban teknis tersebut. Fokus Ima hanya pada pembangunan database calon pembeli melalui iklan berbayar yang dipelajarinya secara otodidak dan dukungan materi promosi dari tim pengembang.
Dampak sistem ini terasa hingga ke pelosok negeri. Seorang kuli bangunan di Jawa Timur yang kerap gagal dalam berbagai usaha akhirnya menemukan jalan sukses melalui kolaborasi ini. Meski lokasinya jauh dari proyek di Bogor, ia tekun belajar dan berhasil menjual dua unit per bulan. Penghasilan tersebut mengubah hidupnya, memungkinkan ia berangkat umrah, membeli rumah, dan memiliki kendaraan.
Kini, Azhari mengelola puluhan proyek di wilayah Jabotabek dengan dukungan ribuan mitra freelance. Kegagalan masa lalu mengajarkan bahwa kunci kesuksesan bukan hanya pada kualitas bangunan, melainkan pada kemampuan merangkul manusia biasa untuk achieving hal luar biasa. Sistem yang sederhana terbukti lebih ampuh daripada struktur korporat yang kaku.






