Jadi Inspirasi
Jadi Inspirasi
Koleksi Buku Inspirasi Bisnis Terbaik
Properti & Real Estate

Bobi: Sulap Properti Mangkrak Jadi Cuan Ratusan Juta di Usia Muda

Lulusan 2017 ini mengubah aset macet menjadi keuntungan besar. Simak strategi Bobi membeli rumah murah dan menjualnya kembali dengan margin tinggi.

(25 Januari 2026)
4 menit baca
Bobi: Sulap Properti Mangkrak Jadi Cuan Ratusan Juta di Usia Muda
Ilustrasi Bobi: Sulap Properti Mangkrak Jadi Cuan Ratusan Juta di Usia.
Hampers Ramadan Premium

Bayangkan membeli properti seharga Rp300 juta, lalu menjualnya kembali seharga Rp500 juta dalam waktu singkat. Selisih ratusan juta rupiah itu masuk ke kantong sebagai keuntungan bersih. Bagi Bobi, pengusaha properti kelahiran 1995, skenario ini bukan sekadar mimpi melainkan rutinitas bisnis yang ia jalani sehari-hari.

Pria asal Bandung ini memilih jalan berbeda dibanding rekan sebayanya yang mengejar jabatan korporat. Ia membangun imperium bisnis dari aset-aset terlantar yang sering dihindari banyak orang. Kini, ia hidup nomaden antara Bali dan Jakarta, mengikuti arus proyek pengembangan vila yang sedang digarapnya.

Mengubah Aset Macet Menjadi Peluang Emas

Perjalanan Bobi dimulai pada tahun 2017, saat ia lulus kuliah dan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Kondisi ekonomi saat itu membuat banyak fresh graduate bingung menentukan langkah. Seorang sepupu akhirnya mengajaknya terjun ke dunia properti, meskipun Bobi mengaku tidak memiliki modal besar maupun latar belakang teknis yang mendalam.

Baca juga: Azhari: Dari Proyek Macet ke Jaringan Emak-Emak Penghasil Miliaran

Ia justru fokus pada segmen yang sering dipandang sebelah mata: properti mangkrak atau macet. Banyak orang menghindari jenis aset ini karena menganggapnya bermasalah dan berisiko tinggi. Bobi melihat celah di sana. Ia menyadari bahwa fisik bangunan tetap ada dan tidak akan lari ke mana-mana, berbeda dengan jenis bisnis lain yang lebih fluktuatif.

Strategi utamanya sederhana namun efektif: mengakuisisi aset dengan harga sangat murah dan menjualnya dengan harga pasar yang wajar. Sebagai contoh, ia pernah membeli sebuah rumah di Jakarta Barat dekat Stasiun Rawabuaya. Harga pasar properti di kawasan tersebut berkisar antara Rp2,2 miliar hingga Rp2,5 miliar.

Namun, karena statusnya yang macet, Bobi berhasil memperoleh rumah tersebut hanya dengan harga Rp1 miliar. Gap harga yang signifikan ini menjadi sumber keuntungan utamanya. Ia tidak perlu menjual terlalu mahal untuk tetap mendapatkan margin yang menarik, sehingga proses penjualan berjalan lebih cepat.

"Kalau misalnya kita beli properti yang harga pasarnya mungkin Rp500 juta, kita misalnya belinya Rp300 juta, terus kita bisa jual Rp500 juta, ya teman-teman bisa bayangin lah untungnya berapa itu," ujar Bobi menjelaskan potensi keuntungan bisnis ini.

Simbiosis Mutualisme dengan Pemilik Asli

Di balik angka keuntungan yang menggiurkan, terdapat sisi kemanusiaan yang sering terlupakan. Properti menjadi mangkrak biasanya disebabkan oleh kegagalan pemilik asli dalam membayar cicilan bank. Akibatnya, bank menyita aset tersebut dan pemilik kehilangan segalanya tanpa mendapat sisa uang apa pun.

Bobi hadir sebagai jembatan solusi melalui skema subrogasi. Ia melunasi kewajiban pemilik ke bank dengan nilai yang lebih rendah dari total utang pokok, bunga, dan denda. Setelah itu, ia menjual kembali properti tersebut kepada pemilik semula dengan harga yang masih lebih murah daripada jika mereka membayar langsung ke bank.

Satu kasus nyata terjadi selama pandemi COVID-19. Sebuah keluarga dengan tiga anak, termasuk balita berusia dua tahun, terancam kehilangan rumah mereka. Kewajiban mereka ke bank saat itu mencapai Rp800 juta akibat akumulasi denda dan bunga berjalan.

Bobi mengambil alih utang tersebut di bank hanya dengan Rp300 juta. Kemudian, ia menawarkan rumah itu kembali kepada keluarga tersebut seharga Rp450 juta. Pihak keluarga merasa sangat terbantu karena beban utang mereka berkurang hampir setengahnya, sementara Bobi tetap mendapatkan keuntungan dari selisih transaksi.

Kepuasan batin inilah yang membuat Bobi betah menggeluti bisnis ini selama bertahun-tahun. Ia merasa menang-win solution tercipta ketika semua pihak merasa happy dan terbantu. Bisnis bukan hanya soal mengumpulkan uang, tetapi juga memberikan dampak positif bagi orang yang sedang terdesak.

Kunci Ketekunan dan Manajemen Waktu

Sukses di usia muda tidak datang secara instan. Bobi mengakui bahwa tantangan terbesar adalah mentalitas untuk tetap tangguh menghadapi ketidakpastian. Ia menyebut dirinya seperti orang buta yang meraba-raba jalan gelap di awal kariernya. Tidak ada peta jelas, hanya kemauan untuk bertanya dan belajar dari siapa saja.

Ia rutin menghadiri berbagai acara dan event properti untuk memperluas koneksi. Dari sanalah ia bertemu dengan para pemain lama yang telah sukses dan memiliki gaya hidup mapan. Melihat mereka memiliki mobil mewah dan portofolio properti yang kuat memotivasi Bobi untuk mengikuti jejak mereka.

Kunci utamanya adalah kemampuan mengelola waktu dan terus memperbarui ilmu. Menjadi tangguh bukan berarti bekerja 20 jam sehari tanpa istirahat. Lebih dari itu, ini tentang efisiensi kerja dan memastikan setiap langkah yang diambil berbasis pengetahuan yang tepat.

Kini, Bobi fokus mengembangkan sekitar 25 unit vila di Bali dengan target pasar wisatawan asing. Model bisnis ini memungkinkannya menghasilkan pendapatan pasif. Vila yang dibeli investor asing kemudian disewakan kembali saat pemiliknya pulang ke negara masing-masing.

Bagi pemula yang ingin meniru jejaknya, Bobi menyarankan untuk tidak muluk-muluk di awal. Cukup targetkan satu transaksi sukses per bulan. Jika satu kali transaksi bisa menghasilkan ratusan juta, maka dalam setahun hasilnya bisa melebihi gaji karyawan selama belasan tahun.

"Ini bisa menghasilkan uang ketika saya tidur," tutup Bobi menggambarkan kebebasan finansial yang ia capai melalui konsistensi menggarap aset-aset terlantar.

Dikutip dari Jadi Inspirasi / Sekali Seumur Hidup (YouTube)

Bagikan artikel ini

Komentar

Pelatihan Trading Saham