Jadi Inspirasi
Jadi Inspirasi
Koleksi Buku Inspirasi Bisnis Terbaik
Sosok Inspiratif

Owen Bumble: Dari Dating Apps Menuju Komitmen di Sekolah Hati

Kisah Owen, founder Sekolah Hati, yang beralih dari pekerja bank menjadi kreator konten untuk membantu perempuan bangkit dari hubungan toxic.

(6 Januari 2026)
4 menit baca
Owen Bumble: Dari Dating Apps Menuju Komitmen di Sekolah Hati
Ilustrasi Owen Bumble: Dari Dating Apps Menuju Komitmen di Sekolah Hat.
Hampers Ramadan Premium

Owen mengubah definisi cintanya secara total. Dulu ia menganggap cinta sebatas emosi dan koneksi sesaat. Kini, pria berusia 26 tahun itu meyakini bahwa komitmen adalah tujuan utama dalam sebuah hubungan.

Bagi Owen, komitmen berarti tetap memilih untuk sayang meski sedang lelah atau burnout. Prinsip ini tidak datang tiba-tiba, melainkan hasil dari perjalanan panjang mengeksplorasi dinamika percintaan modern.

"Karena komitmen itu kayak setiap hari mau kita lagi capek, mau kita lagi ngambut sama pasangan kita, kita masih memilih untuk sayang sama dia," ujar Owen.

Sosok di balik akun Bumble ini kini dikenal sebagai founder Sekolah Hati. Komunitas tersebut lahir untuk menjawab keresahan banyak perempuan yang terjebak dalam hubungan tidak sehat.

Baca juga: Ali Sarbani: Dari Anak Petani Kudus Menjadi Raja Properti Semarang

Lompatan Berani Meninggalkan Zona Nyaman

Owen tumbuh di keluarga yang sangat suportif di Bandung. Apapun minatnya, mulai dari musik hingga bisnis online, selalu mendapat dukungan penuh. Latar belakang ini membentuknya menjadi pribadi yang berani mencoba hal baru.

Meski berlabel introvert, Owen aktif berorganisasi sejak sekolah. Ia bahkan sering menjadi pembawa acara atau MC di berbagai event kampus dan konser. Kegemaran melihat orang lain terlibat dan bahagia saat ia berbicara menjadi benih awal kariernya.

Setelah lulus kuliah, Owen bekerja di salah satu bank di Jakarta. Di sela kesibukan kantoran, ia merintis bisnis makanan dan mulai membuat konten video. Rutinitas 9-to-5 itu akhirnya terasa mengekang potensi dirinya.

Baca juga: Yohanes Henki: 25 Tahun Jadi Kontraktor Sukses Tanpa Modal Awal

Ia menyadari bahwa gaji besar tidak menjamin kebahagiaan jika pekerjaan tersebut tidak sesuai passion. Dengan keyakinan kuat, Owen memutuskan keluar dari pekerjaan stabilnya pada tahun 2022 untuk fokus menjadi kreator konten.

"Aku tuh penginnya bisa share ke orang. Aku tuh pengin bisa connect sama orang sehingga pekerjaan aku yang seperti 925 itu enggak membuat aku happy," kenangnya.

Keputusan tersebut membawa risiko ketidakpastian pendapatan. Namun, Owen percaya bahwa mengerjakan apa yang disukai dengan sepenuh hati akan membuahkan kesuksesan. Hingga kini, ia telah menjalani profesinya sebagai kreator konten selama hampir lima tahun.

Dari Luka Pribadi Menjadi Ruang Healing

Cikal bakal Sekolah Hati bermula dari pengalaman pribadi Owen menggunakan aplikasi kencan. Ia terjun langsung merasakan dinamika pertemuan dengan berbagai karakter manusia.

Pengalaman tersebut membuka matanya bahwa pandangan orang tentang cinta sangat beragam. Banyak cerita unik dan kompleks yang ia temui, jauh berbeda dari ekspektasi awalnya yang sederhana.

Saat mulai mengunggah cerita pengalamannya di media sosial, respons audiens ternyata luar biasa. Banyak pengikut yang merasa terhubung dan mulai berbagi curhatan mereka sendiri melalui pesan langsung.

Topik yang paling dominan masuk adalah tentang patah hati dan hubungan toxic. Banyak perempuan mengaku disakiti, digantung bertahun-tahun, atau tidak dianggap serius oleh pasangannya.

"Dari situ aku merasa loh emang susah untuk keluar dari hubungan toxic itu kayak gimana sih? Jadi, aku mendalami di situ dan akhirnya setelah aku belajar, wah tidak segampang itu," ungkap Owen.

Kenyataan bahwa proses healing tidak mudah memicu ide mendirikan komunitas. Owen ingin menciptakan wadah agar perempuan bisa belajar bangkit tanpa harus menurunkan standar mereka.

Sekolah Hati hadir bukan sekadar tempat curhat, melainkan ruang pertumbuhan. Tujuannya mencetak perempuan hebat yang memahami nilai diri mereka dalam sebuah hubungan.

Banyak anggota komunitas yang awalnya putus asa karena ditinggalkan tunangan atau pasangan lama, kini berhasil membuka hati untuk orang baru. Perubahan kecil seperti pasangan yang menjadi lebih effort memberikan kebahagiaan tersendiri bagi para anggotanya.

Owen juga kerap meluruskan miskonsepsi tentang cinta di kalangan generasi muda. Ia menekankan bahwa rasa sayang saja tidak cukup tanpa adanya makna dan visi masa depan bersama.

Menurutnya, seorang pria tidak akan serius jika tidak melihat wanita tersebut dapat meningkatkan derajat kebahagiaannya. Pesan inilah yang terus ia sampaikan untuk melawan arus informasi percintaan yang kurang berdasar di media sosial.

Komitmen Owen terhadap misi ini semakin kuat setelah ia menemukan pasangan hidupnya, Olive. Mereka bertemu melalui aplikasi kencan yang sama yang sering ia bahas.

Meskipun sudah mengenal nama Olive sejak SMA, mereka baru benar-benar berkomunikasi lewat fitur DM Instagram sebelum akhirnya match di aplikasi. Pertemuan pertama mereka langsung memberikan kepastian bahwa ini adalah hubungan yang berbeda.

Dinamika yang terbangun dengan Olive membuktikan bahwa hubungan serius dari aplikasi kencan sangat mungkin terjadi. Owen berencana menikah tahun depan, menutup rangkaian ceritanya dengan akhir yang bahagia.

Kini, Owen terus mengembangkan Sekolah Hati untuk menjangkau lebih banyak perempuan. Ia ingin memastikan bahwa setiap individu memiliki bekal cukup untuk menghadapi kompleksitas cinta modern.

Dikutip dari Jadi Inspirasi / Sekali Seumur Hidup (YouTube)

Bagikan artikel ini

Komentar

Pelatihan Trading Saham