Jeremy Tanuardy menyadari satu hal seiring bertambahnya usia: hidup harus memberikan dampak yang nyata. Sebagai CEO PTS Technologies Indonesia dan pendiri gerakan "Sekali Seumur Hidup", ia tidak hanya menjual jasa pemasaran, tetapi merangkai kisah para praktisi hebat agar bisa dipraktikkan oleh banyak orang.
Perjalanannya bermula dari rasa ganjal saat membantu klien syuting iklan komersial. Jeremy melihat banyak tokoh bisnis hebat yang ilmunya luar biasa, namun tidak terkenal dan ceritanya tidak tersampaikan dengan baik kepada publik. Ia ingin mengubah footage biasa menjadi narasi yang menggerakkan.
"Gua dari awal makanya langsung bilang, 'Ini kesempatan mungkin sekali-kalinya seumur hidup sama saya. Izinin saya buat ceritain cerita Bapak. Siapa tahu ini bisa ngerubah hidup orang banyak.'"
Dari Penonton Menjadi Pelaku Aksi
Kecintaan Jeremy pada film dokumenter memicu ide besar ini. Ia sering menonton kisah sukses dari nol hingga menjadi pahlawan, lalu terinspirasi untuk menirunya. Namun, ia sadar bahwa kebanyakan orang berhenti pada tahap merasa termotivasi tanpa melakukan tindakan nyata.
Baca juga: Ali Sarbani: Dari Anak Petani Kudus Menjadi Raja Properti Semarang
Platform "Sekali Seumur Hidup" dirancang berbeda. Tujuannya bukan sekadar menceritakan kisah sedih atau kesuksesan, melainkan menyediakan infrastruktur bagi penonton untuk belajar langsung dari praktisinya. Jeremy memfilter narasumber yang tidak hanya inspiratif, tetapi juga mampu membimbing audiens untuk mempraktikkan ilmunya.
Tokoh pertama yang membakar semangat Jeremy adalah Pak Pipo Harjanto, seorang investor properti ahli minimarket. Pertemuan mereka terjadi pada 2016 saat Jeremy masih mengajar kelas pemasaran digital. Saat itu, Pak Pipo memiliki 17 toko namun mengaku "nganggur" karena fokus pada pendapatan pasif.
Cerita Pak Pipo bangkit dari kebangkrutan tahun 2008 tanpa modal awal membuat Jeremy penasaran. Ia membantu memasarkan ilmu Pak Pipo melalui YouTube dan acara offline. Hasilnya ribuan orang berubah hidupnya, termasuk Jeremy sendiri yang later menerapkan strategi tersebut saat terjepit masalah.
Baca juga: Yohanes Henki: 25 Tahun Jadi Kontraktor Sukses Tanpa Modal Awal
Bangkit dari Reruntuhan Bisnis Pandemi
Ujian sesungguhnya bagi Jeremy datang saat pandemi melanda. Klien-kliennya bubar, bisnis turun drastis, dan timnya harus pindah kantor sambil berutang. Dalam kondisi terpuruk itu, konsep "Sekali Seumur Hidup" belum lahir secara resmi, namun prinsip yang ia pelajari dari Pak Pipo menjadi penyelamat.
Jeremy mempraktikkan sendiri ilmu investasi aset yang ia promosikan. Di tengah kekacauan finansial, ia berhasil membeli aset pertamanya. Bangunan tersebut kini berfungsi sebagai kantor bagi timnya dan rumah bagi keluarga besar perusahaan mereka. Pengalaman pahit inilah yang mematangkan tekadnya untuk serius membangun wadah dokumenter.
Ia menyadari bahwa orang Indonesia menyukai cerita perjuangan dan kebangkitan. Daripada hanya menjadi penonton yang menikmati konten orang lain, Jeremy memutuskan untuk memperluas jangkauannya. Ia ingin menciptakan sejarah yang bisa diwariskan, sesuai dengan tagline perusahaan induknya, #BuatSejarah.
Nama "Sekali Seumur Hidup" dipilih untuk menekankan urgensi tindakan. Jeremy ingin penonton dan narasumber memahami bahwa kesempatan untuk berubah dan memberi dampak mungkin hanya datang satu kali. Ia mendorong semua pihak untuk segera bertindak demi keluarga dan lingkungan sekitar.
Konsistensi di Tengah Rugi Finansial
Membangun platform ini bukanlah jalan yang mulus secara finansial. Jeremy mengakui bahwa produksi dokumenter berkualitas tinggi dengan keliling ke berbagai lokasi hampir tidak menghasilkan keuntungan langsung. Biaya produksi mahal, sementara jumlah tayangan dan pendapatan iklan sering kali tidak sebanding.
Tantangan terbesar bukanlah uang, melainkan menjaga konsistensi semangat tim di tengah tekanan. Saat pandemi, banyak kompetitor bermunculan dengan kualitas tinggi, sementara tim Jeremy berjuang bertahan. Revenue dari bisnis teknologi dan investasi properti lainnya sebenarnya aman, namun menjaga nyala api "Sekali Seumur Hidup" tetap hidup jauh lebih berat.
Untuk mengingatkan diri dan timnya tentang tujuan awal, Jeremy bahkan meminta tim untuk mendokumentasikan dirinya sendiri. Ia ingin memastikan bahwa visi untuk menginspirasi dan mengajak praktik tidak luntur tertelan rutinitas bisnis semata.
Kini, setelah sembilan tahun berjalan sejak pertemuan dengan Pak Pipo pada 2016 hingga 2025, gerakan ini terus berlanjut. Jeremy berharap karya-karya ini dapat abadi dan menjadi warisan berharga bagi anak cucu kelak. Baginya, setiap usaha dan lini bisnis pasti punya cerita masing-masing yang layak disimak.
Bagi siapa pun yang merasa memiliki cerita keren atau mengenal praktisi hebat, Jeremy membuka kesempatan seluas-luasnya. Melalui situs web dan kontak resmi di YouTube, siapa saja bisa mengajukan diri atau merekomendasikan tokoh potensial. Filter utamanya tetap satu: kemampuan memberi inspirasi dan memandu aksi nyata bagi penontonnya.






