Owen pernah bekerja di sebuah bank di Jakarta sambil menjalankan bisnis makanan di malam hari. Jadwalnya padat, mulai dari urusan kantor hingga mengurus pesanan kuliner, namun hatinya merasa kosong. Pekerjaan dengan pola 9-to-5 itu tidak memberinya kebahagiaan meski gaji yang diterima terbilang layak. Ia menyadari bahwa potensi dirinya jauh lebih besar daripada sekadar menjadi pegawai kantoran.
Keputusan nekat diambil pada tahun 2022 ketika Owen memilih keluar dari zona nyamannya untuk mengejar passion sebagai content creator. Awalnya ia ragu karena pendapatan seorang kreator sering kali naik turun dan tren berubah setiap bulan. Namun, keinginan untuk terhubung dengan orang lain dan membagikan pesan positif mengalahkan ketakutan akan ketidakpastian finansial. Langkah ini menjadi titik awal transformasi hidupnya dari seorang karyawan menjadi sosok yang menginspirasi ribuan perempuan.
Pergeseran Pandangan tentang Cinta dan Komitmen
Pengalaman pribadi Owen dalam menggunakan aplikasi kencan atau dating apps membuka matanya terhadap kompleksitas hubungan modern. Ia awalnya memandang cinta sebatas emosi sesaat, ucapan "I love you", dan koneksi dangkal belaka. Realita di lapangan menunjukkan banyak orang memiliki pandangan berbeda, di mana hubungan sering kali berakhir dengan kebingungan atau luka batin. Fenomena ini memicu Owen untuk mendalami psikologi hubungan dan berbagi pengetahuannya melalui media sosial.
Baca juga: Strategi Properti Azhari: Belajar dari Kegagalan hingga Sukses
Melalui proses belajar tersebut, definisi cinta bagi Owen mengalami perubahan drastis. Ia kini meyakini bahwa cinta saja tidak cukup tanpa adanya komitmen yang kuat dari kedua belah pihak. Komitmen inilah yang menjadi fondasi utama saat pasangan menghadapi kelelahan atau masalah berat dalam rumah tangga.
"Cinta itu bukan segalanya, tapi yang harus kita kejar itu komitmen. Karena komitmen itu kayak setiap hari mau kita lagi capek, mau kita lagi ngambut sama pasangan kita, kita masih memilih untuk sayang sama dia," ujar Owen.
Pandangan baru ini terbukti dalam kehidupan pribadinya setelah bertemu Olive, wanita yang ia kenal sejak masa SMA namun baru dekat lewat aplikasi kencan. Pertemuan mereka berlangsung cepat dan meyakinkan, hingga kurang dari seminggu mereka memutuskan untuk menjalin hubungan serius. Kini, Owen menatap masa depan pernikahan dengan Olive sebagai bukti bahwa hubungan dari dunia maya bisa berujung pada komitmen nyata jika didasari tujuan yang jelas.
Membangun Sekolah Hati sebagai Solusi Hubungan Toxic
Banyaknya pesan masuk dari pengikutnya menjadi katalisator berdirinya Sekolah Hati. Owen kerap menerima curhatan dari perempuan yang terluka, digantung bertahun-tahun, atau tidak dianggap serius oleh pasangannya. Ia melihat betapa sulitnya bagi korban hubungan toxic untuk bangkit dan menemukan kembali harga diri mereka tanpa panduan yang tepat. Kondisi ini mendorongnya untuk menciptakan sebuah komunitas yang fokus pada pemulihan dan pertumbuhan diri.
Baca juga: Dari Sering Kasbon Jadi Pengusaha Working Space Tanpa Modal
Sekolah Hati dirancang bukan sekadar tempat curhat, melainkan ruang belajar bagi perempuan untuk melakukan healing dan growth. Program ini mengajarkan anggotanya agar tidak menurunkan standar hanya demi mendapatkan perhatian pria. Tujuannya adalah mencetak perempuan-perempuan hebat yang mandiri secara emosional dan memahami nilai diri mereka sendiri.
Dampak nyata mulai terasa ketika anggota komunitas berhasil memperbaiki hubungan mereka atau berani meninggalkan situasi yang merugikan. Beberapa peserta melaporkan mampu membuat pasangan menjadi lebih effort dan komunikatif setelah menerapkan ilmu dari Sekolah Hati. Ada pula yang sebelumnya putus tunangan dan patah hati, kini telah siap membuka hati untuk pertemuan baru yang lebih sehat.
Owen juga meluruskan kesalahpahaman umum bahwa pria hanya butuh rasa sayang. Ia menekankan bahwa seorang pria tidak akan serius jika tidak bisa melihat masa depan bersama pasangannya. Hubungan akan pudar jika wanita hanya memberikan kasih sayang tanpa memberikan makna atau peningkatan kualitas hidup bagi sang pria.
"Kamu sayang cowok mau sampai ngasih semuanya juga enggak cukup kalau kamu enggak ngasih makna buat cowok ini. Gimana cowok ini bisa ngelihat masa depan sama kamu? Hidupnya makin happy, derajat dia makin naik," tegas Owen menjelaskan materi intinya.
Kini, Sekolah Hati terus berkembang menjangkau lebih banyak perempuan dengan berbagai latar belakang, termasuk mereka yang gagal dalam dating apps. Owen berharap platform ini dapat mencegah pergeseran generasi menuju pola pikir negatif tentang percintaan. Melalui pendekatan yang realistis dan berbasis pengalaman, ia membuktikan bahwa ide sederhana dari keresahan pribadi dapat bertransformasi menjadi bisnis sosial yang berdampak luas bagi masyarakat.






