Jadi Inspirasi
Jadi Inspirasi
Koleksi Buku Inspirasi Bisnis Terbaik
Sosok Inspiratif

Kisah Agus Prianto: Dari Gagal Nyaleg Jadi Terapis Seni

Agus Prianto kehilangan rumah dan uang usai gagal jadi caleg. Ia bangkit lewat lukisan, kini menyembuhkan luka batin orang lain melalui art therapy.

(26 Januari 2026)
4 menit baca
Kisah Agus Prianto: Dari Gagal Nyaleg Jadi Terapis Seni
Ilustrasi Kisah Agus Prianto: Dari Gagal Nyaleg Jadi Terapis Seni.
Hampers Ramadan Premium

Agus Prianto pernah berada di titik paling kelam dalam hidupnya. Pada 2019, ia mengikuti kontestasi pilkada sebagai calon legislatif dengan harapan besar. Hasilnya nihil. Ia tidak hanya gagal meraih suara, tetapi juga kehabisan dana hingga terpaksa menjual rumah.

Keluarganya harus menumpang tinggal di rumah mertua. Kondisi finansialnya hancur total. Stres menghantui setiap hari. Dalam keterpurukan itu, Agus menemukan satu-satunya pelarian yang ia miliki sejak lama: melukis.

"Dari coret-coretan itu akhirnya saya benar-benar bisa rilis. Akhirnya saya melihat dari garis-garis tersebut. Akhirnya saya teruskan menjadi sebuah lukisan yang berwarna," kenang Agus.

Ia mengambil sisa kanvas yang ada di rumahnya. Tanpa memikirkan teknik atau hasil akhir, Agus mencoret-coret kanvas tersebut sesuka hati. Aktivitas bebas tanpa beban itu perlahan melepaskan penat yang menyumbat dadanya. Warna-warna yang muncul di atas kanvas mengembalikan rasa percaya dirinya yang sempat hilang.

Baca juga: Ali Sarbani: Dari Anak Petani Kudus Menjadi Raja Properti Semarang

Jatuh Lebih Dalam Sebelum Bangkit

Nasib buruk belum selesai menguji mental Agus. Saat mencoba bangkit, istri memberikan modal usaha sekitar Rp100 juta dari hasil pinjaman bank untuk ekspedisi yang sudah tidak berjalan lancar. Uang itu seharusnya menjadi tiket untuk memulai kembali kehidupan mereka.

Agus menyerahkan seluruh uang tersebut kepada seorang teman yang menjanjikan bisnis menguntungkan dari Jakarta. Temannya itu membawa lari uang tersebut tanpa jaminan apa pun. Telepon seluler pelaku langsung dimatikan. Agus menyadari ia telah menjadi korban penipuan orang yang bermasalah.

Beban utang bank sebesar Rp3 juta hingga Rp4 juta per bulan harus ia cicil meski tidak memiliki pendapatan. Kondisi ini menambah tekanan psikologis yang sudah ada akibat kegagalan politik sebelumnya. Ia merasa terjebak dalam lubang yang semakin dalam tanpa jalan keluar yang jelas.

Baca juga: Yohanes Henki: 25 Tahun Jadi Kontraktor Sukses Tanpa Modal Awal

Di tengah hujan deras saat bulan puasa, Agus pernah mendorong motornya karena kehabisan bensin dan tidak punya uang untuk membeli makanan berbuka. Hanya berdua dengan istrinya, ia bersandar pada doa. Anehnya, di situasi memalukan itu, ucapan syukur justru meluncur dari lisannya.

"Saya mengucapkan puji syukur alhamdulillah. Engkau memang memaksa saya untuk berjalan kaki. Barangkali ini memang saya perlukan demi kesehatan saya," ucap Agus mengenang momen tersebut.

Sikap bersyukur di titik nadir itulah yang menjadi kunci perubahan pola pikirnya. Ia menyadari bahwa menolak kenyataan hanya akan memperpanjang penderitaan. Menerima kegelapan dengan ikhlas ternyata membuka celah cahaya kecil yang perlahan membesar.

Menyembuhkan Luka Lewat Sapuan Kuas

Pengalaman pahit mengubah hobi lama Agus menjadi profesi baru. Ia menamai kegiatannya Soul Healing Art Therapy. Kini, ia berperan sebagai pembicara dan konsultan bagi mereka yang mengalami gangguan psikis seperti kecemasan, ketakutan, hingga stres berat.

Metode yang ia terapkan menggabungkan meditasi pernapasan dengan aktivitas melukis. Peserta dibimbing untuk masuk dalam kondisi mindfulness atau kesadaran penuh sebelum menyentuh kuas. Tujuannya agar intuisi dan alam bawah sadar yang mengarahkan goresan, bukan logika pikiran.

Setiap warna diyakini memiliki energi dan frekuensi tersendiri. Warna biru dapat membantu menciptakan ketenangan bagi yang cemas. Sementara warna merah mampu membangkitkan keberanian bagi mereka yang diliputi rasa takut. Proses ini terjadi secara alami ketika hambatan ego dilepaskan.

Salah satu kisah paling membekas bagi Agus melibatkan seorang ibu yang baru kehilangan orang tercinta. Dalam sesi terapi seharian, wanita itu melukis tanpa rencana sadar. Hasilnya adalah gambar sosok yang dicintainya sedang dipeluk malaikat.

"Ibu itu sampai benar-benar menangis. Terima kasih Pak Agus karena dengan lukisan ini saya mendapatkan informasi kondisi orang yang saya cintai," tutur Agus menirukan ucapan peserta tersebut.

Lukisan itu menjadi jembatan komunikasi antara yang hidup dan yang telah tiada. Air mata yang tumpah bukan lagi tanda kesedihan, melainkan pelepasan energi negatif yang selama ini tertahan. Agus melihat bagaimana seni mampu membuka ruang penyembuhan yang tidak bisa diakses oleh kata-kata biasa.

Agus ingin warisannya bukan berupa harta, melainkan ilmu yang bermanfaat bagi banyak orang. Ia berharap metode Soul Release Art Mastery ini dapat ditularkan kepada lebih banyak pihak. Dengan demikian, siapa pun yang mengalami kekacauan jiwa bisa menemukan cara untuk menyembuhkan diri sendiri.

Bagi Agus, menjadi manusia hebat bukan berarti bebas dari masalah. Bintang justru bersinar karena berada dalam kegelapan. Ia mengajak semua orang untuk tidak membenci masa-masa sulit. Ketenangan dan penerimaan adalah kunci untuk mengubah luka menjadi cahaya yang menerangi diri sendiri dan orang lain.

Dikutip dari Jadi Inspirasi / Sekali Seumur Hidup (YouTube)

Bagikan artikel ini

Komentar

Pelatihan Trading Saham