Hendy Tanuardy pernah berdiri di persimpangan hidup yang sangat berat. Ia harus memilih antara melanjutkan karir stabil sebagai konsultan teknik sipil atau mengejar passion di dunia trading yang saat itu sedang terpuruk. Pilihan jatuh pada jalan yang penuh ketidakpastian, sebuah keputusan yang hampir membuatnya kehilangan segalanya.
Pria yang akrab disapa Hendy Tan ini mengaku sempat mengalami kerugian besar hingga nyaris bangkrut saat merantau ke Jakarta. Tabungannya menipis, pekerjaan utama telah ditinggalkan, dan masa depan terlihat suram. Namun, titik nadir itulah yang justru menempa mentalnya menjadi mentor investor yang kini membantu banyak orang.
Belajar dari Guru Geografi dan Pahitnya Kerugian
Perjalanan Hendy di dunia investasi dimulai sejak ia masih duduk di bangku SMA, sekitar usia 15 atau 16 tahun. Saat itu, seorang guru geografi yang asik berbagi cerita bahwa gaji guru ternyata tidak cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Sang guru melakukan trading forex dan gold sebagai sumber penghasilan tambahan, sebuah fakta yang membuka mata Hendy muda.
Baca juga: Ali Sarbani: Dari Anak Petani Kudus Menjadi Raja Properti Semarang
Tertarik, Hendy mulai mencoba-coba trading secara iseng. Tanpa ilmu yang memadai, ia hanya membeli karena merasa harga akan naik dan menjual saat panik melihat harga turun. Hasilnya bisa ditebak, ia rugi berulang kali dan hanya menjadi "sponsor market" yang menyumbang uang kepada pelaku pasar lainnya.
Pengalaman pahit tersebut menyadarkannya bahwa trading bukan sekadar judi atau untung-untungan. Hendy belajar bahwa kunci keberhasilan terletak pada money management yang baik dan perencanaan yang matang. Emosi harus ditahan agar tidak terjebak dalam siklus rugi yang cepat.
"Gue ingin menyelamatkan sebanyak-banyaknya orang jangan sampai mereka tersesat di dalam dunia trending yang salah ataupun investasi yang salah."
Kesadaran ini mengubah pola pikirnya. Ia menyadari bahwa profit cepat seringkali diikuti oleh rugi yang cepat pula. Fokusnya bergeser dari mencari kekayaan instan menjadi membangun pendapatan tambahan yang konsisten melalui analisis yang benar.
Baca juga: Yohanes Henki: 25 Tahun Jadi Kontraktor Sukses Tanpa Modal Awal
Resign dari Teknik Sipil dan Ujian Berat di Jakarta
Latar belakang pendidikan Hendy sebenarnya jauh dari keuangan. Ia merupakan lulusan S2 teknik sipil yang bekerja profesional sebagai konsultan konstruksi, merancang jembatan hingga proyek LRT dan MRT. Di satu sisi, komunitas trading gratis yang ia bangun semakin besar. Di sisi lain, karir tekniknya semakin menanjak.
Konflik batin terjadi ketika ia harus menentukan prioritas hidup. Orang tuanya sempat menentang keras rencana Hendy untuk meninggalkan profesi mapan demi trading. Mereka mempertanyakan gunanya ijazah S1 dan S2 jika tidak digunakan sesuai bidang studi.
Namun, Hendy takut menyesal seumur hidup jika tidak mengikuti passionnya dalam mengajar dan berbagi. Ia akhirnya memutuskan resign dari pekerjaan teknik sipil dan merantau dari Bandung ke Jakarta dengan modal seadanya. Keputusan ini membawa konsekuensi logis yang berat.
Sesampainya di Jakarta, realitas bisnis menghantamnya keras. Trading tidak selalu profit, dan bisnisnya sedang drop drastis. Tanpa pendapatan tetap dan tabungan yang terkikis habis akibat kerugian, Hendy berada di titik terendah. Ia bahkan sempat berpikir untuk kembali ke Bandung dan menjadi konsultan sipil lagi.
"Waktu itu gua harus tanggung sendiri ya uang tabungan tuh benar-benar... gua mengalami kerugian yang lumayan ya pekerjaan utama gua juga sudah hilang gua gak punya income ruginya gede," kenang Hendy mengenai masa-masa sulit tersebut. Meski sempat ragu, ia memilih untuk bertahan dan tidak menyerah begitu saja.
Menemukan Metode Kotak-Kotak dan Bangkit Kembali
Titik balik terjadi ketika Hendy mengevaluasi cara mengajarnya selama ini. Sebelumnya, ia mengajarkan terlalu banyak metode rumit seperti Fibonacci, Harmonic Pattern, hingga Candlestick Pattern secara sekaligus. Materi yang padat dan kompleks tersebut membuat pemula, terutama yang lebih tua, kesulitan memahami dan mempraktikkannya.
Ia kemudian mengembangkan metode "kotak-kotak" yang sebenarnya ditemukan oleh kakaknya. Metode ini simpel dan mudah dipahami awam, namun menurut Hendy masih kurang efektif untuk profit konsisten. Ia pun memperbarui materi tersebut, menambahkan data backtest dan pembuktian fakta agar tidak hanya mengandalkan perasaan atau hoki.
Dengan pendekatan berbasis data dan metode yang disederhanakan, Hendy mulai membangun timnya kembali dari nol. Komunitasnya tumbuh karena peserta didik merasa terbantu dengan cara mengajar yang lugas dan berprinsip dasar kuat. Ia berhasil membuktikan bahwa trading bisa dipelajari dengan benar tanpa harus rumit.
Kini, sebagai co-founder 3D Trading Academy, Hendy aktif membina komunitas trading crypto, forex, gold, hingga saham. Misi utamanya bukan sekadar mencetak trader kaya, melainkan menciptakan investor yang bijak dan terlindungi dari kesalahan fatal yang pernah ia alami.
Hendy berharap pengalamannya dapat menjadi pelajaran bagi siapa saja yang baru memulai. Ia ingin orang-orang tidak perlu "nabrak" dulu seperti dirinya untuk paham betapa pentingnya strategi yang benar. Ketekunan melewati masa sulit di Jakarta telah berubah menjadi manfaat luas bagi masyarakat.






