DN pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia mengalami kebangkrutan usaha, sakit saraf kejepit akibat skoliosis, diputuskan pasangan, hingga divonis menderita demensia oleh dokter di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta. Kondisi kognitifnya turun drastis karena ketidakseimbangan neurotransmitter di otak, membuatnya sulit berpikir jernih.
Namun, pria yang kini berkarir sebagai website developer ini menolak menyerah pada keadaan. Di tengah badai masalah yang menimpanya bertubi-tubi, DN menemukan celah harapan melalui sosok kakaknya, Koko, yang sukses bekerja sebagai pengembang web dengan pendapatan ribuan dolar per bulan.
"Tapi Koko tetap maksa supaya saya jadi seorang programer, tetap maksa supaya saya harus terus belajar, ya karena enggak ada yang bisa bantuin saya kalau bukan diri saya sendiri," ujar DN mengenang momen pivotal tersebut.
Dari Jurang Stres ke Dunia Coding
Perjalanan DN menuju dunia teknologi tidak dimulai dengan mulus. Awalnya, ia lebih tertarik berbisnis fisik setelah mengikuti sebuah seminar yang menjanjikan kemudahan dalam berdagang. Ia membuka toko elektronik di kawasan Mangga Dua, menjual konsol game seperti PlayStation, Xbox, dan Nintendo.
Baca juga: Ali Sarbani: Dari Anak Petani Kudus Menjadi Raja Properti Semarang
Usaha itu runtuh seketika saat pandemi COVID-19 melanda. Pengunjung sepi, namun biaya operasional dan gaji pegawai tetap harus dibayar. Modalnya habis total. Ditambah dengan kondisi fisiknya yang nyeri luar biasa akibat saraf terjepit dan patah hati, DN jatuh ke dalam depresi berat.
Ia mengurung diri di kamar gelap, mematikan lampu, dan menangis tanpa henti sambil menolak interaksi dengan siapa pun, termasuk keluarga. Pada fase itulah stres memicu gangguan kognitif yang kemudian didiagnosis medis sebagai demensia. Bagi banyak orang, vonis ini adalah tanda untuk berhenti berkarya, terutama di bidang teknis seperti pemrograman yang menuntut logika tinggi.
DN memilih jalan berbeda. Ia mengamati kesuksesan Koko yang meski awalnya bergaji Rp7-8 juta, kini berpenghasilan sangat besar sebagai head developer. Ketertarikan lamanya pada dunia IT saat kuliah dulu kembali menyala. DN memutuskan untuk meniru jejak sang kakak meskipun ingatannya sering kali bermasalah.
Baca juga: Yohanes Henki: 25 Tahun Jadi Kontraktor Sukses Tanpa Modal Awal
Proses Belajar dan Tembus Pasar Amerika
Dengan bimbingan intensif dari Koko sebagai mentor, DN memulai proses belajar coding selama tiga bulan penuh. Ia menyadari bahwa keterbatasan memorinya mengharuskan ia bekerja lebih keras daripada orang normal. Bug error yang muncul setiap hari sering membuatnya susah tidur, namun ia paham bahwa berhenti berarti jalan buntu.
"Hambatan itu udah pasti ada, apalagi dalam dunia coding baru nging dikit aja udah ketemu bug, bug lagi, bug lagi, ya kadang-kadang kalian jadi susah tidur bugnya belum selesai malam-malam," aku DN mengenai realita pekerjaannya.
Pada bulan keempat belajar, DN memberanikan diri melamar kerja ke perusahaan berbasis di Amerika Serikat. Banyak keraguan menghantui, terutama soal kemampuan bahasa Inggris. Namun, ia meyakini bahwa level menengah sudah cukup untuk memulai komunikasi profesional. Hasilnya mengejutkan; ia langsung diterima dan meraih gaji pertama sebesar Rp66 juta.
Kini, DN berstatus sebagai full stack developer, mengelola sisi server (back end) hingga tampilan antarmuka pengguna (front end). Pekerjaan ini ia jalani secara remote, memberikan keseimbangan hidup yang dulu tidak pernah ia rasakan saat lelah mengurus toko fisik. Ia kini punya waktu untuk jalan-jalan ke Bali dan bermain board game bersama keluarga besar.
DN menyebut masa-masa sulitnya sebagai blessing in disguise. Jika tidak bangkrut dan sakit, mungkin ia masih terjebak dalam rutinitas jual-beli gadget yang menguras tenaga tanpa kemajuan signifikan. Keterpaksaan untuk berubah justru membawanya pada karir impian dengan pendapatan dalam mata uang dolar.
Meski sudah sukses, DN mengakui posisinya masih di bawah Koko yang mampu membeli mobil Mercedes dan rumah miliaran rupiah secara tunai. Hal itu justru menjadi bahan bakar motivasinya untuk terus meningkatkan keahlian. Ia ingin mencapai tingkat kemapanan yang sama agar bisa membantu lebih banyak orang.
Bagi DN, kesuksesan bukan hanya soal angka di rekening. Ia memiliki misi pribadi untuk menjangkau mereka yang mengalami depresi serupa. Pengalaman nyaris mengakhiri hidup membuat ia empati pada penderita masalah kesehatan mental.
"Harapan saya tuh sebenarnya ingin membantu orang-orang di luar sana, terutama buat mereka yang mengalami depresi seperti saya. Saya pengin berteman dengan mereka supaya mereka bisa keluar, jangan sampai suicide," tegas DN dengan nada serius.
Saat ini, DN aktif berkolaborasi dengan lembaga akademik untuk mengedukasi generasi muda. Melalui webinar, ia membagikan strategi langkah demi langkah untuk mendapatkan pekerjaan remote dari luar negeri. Pesannya sederhana: uang dolar jauh lebih mudah diraih jika kita mau mempelajari polanya, meski latar belakang pendidikan orang tua terbatas seperti miliknya.
DN menekankan pentingnya memiliki mentor yang bisa memaksa kita bergerak saat keinginan menyerah datang. Tanpa dorongan Koko yang terus mendesak, mungkin ia tidak akan pernah menyentuh baris kode pertama. Ia membuktikan bahwa demensia bukanlah tembok beton yang tak bisa ditembus oleh tekad manusia.
Kisah DN mengajarkan bahwa keterbatasan fisik atau kognitif tidak serta merta menghapus potensi seseorang untuk berprestasi di sektor teknologi. Selama ada kemauan untuk dipaksa belajar dan keberanian mengambil peluang di pasar global, badai kehidupan bisa menjadi landasan pacu menuju kesuksesan yang lebih besar.






