Jadi Inspirasi
Jadi Inspirasi
Koleksi Buku Inspirasi Bisnis Terbaik
Sosok Inspiratif

Steven Tunas: Trader yang Selamat dari WTC hingga Pandemi

Mengalami krisis WTC 2001, krisis global 2008, dan pandemi COVID-19, Steven Tunas berbagi kunci disiplin scalping untuk profit konsisten tanpa margin call.

(19 Januari 2026)
4 menit baca
Steven Tunas: Trader yang Selamat dari WTC hingga Pandemi
Ilustrasi Steven Tunas: Trader yang Selamat dari WTC hingga Pandemi.
Hampers Ramadan Premium

Peristiwa penabrakan gedung WTC di Amerika Serikat pada September 2001 menjadi ujian pertama bagi Steven Tunas di dunia trading. Enam bulan setelah ia memulai kariernya pada Maret 2001, pasar indeks saham seperti Nikkei dan Hangseng mengalami gap down drastis akibat serangan teroris tersebut. Hampir seluruh nasabahnya terkena margin call (MC) atau habis modalnya dalam sekejap karena menahan posisi saat berita buruk muncul.

Krisis tidak berhenti di situ. Steven kembali menghadapi guncangan hebat saat krisis ekonomi global melanda pada 2008. Portofolio sahamnya rontok dan menimbulkan kerugian besar, meskipun ia masih bisa menyelamatkan diri melalui perdagangan emas dan forex yang justru naik saat itu. Gelombang kesulitan terakhir menghantam pada 2020 ketika pandemi COVID-19 membuat harga minyak mentah dunia anjlok dan pasar saham kembali terguncang.

Pengalaman pahit melewati tiga bencana finansial global tersebut membentuk filosofi trading Steven hingga hari ini. Ia menyimpulkan bahwa menahan posisi overnight atau menginap adalah penyebab utama kehancuran modal trader saat terjadi lompatan harga ekstrem. Dari sanalah ia memutuskan untuk beralih total ke strategi scalping, yaitu teknik trading cepat tanpa membiarkan posisi terbuka saat pasar tutup.

Baca juga: Ali Sarbani: Dari Anak Petani Kudus Menjadi Raja Properti Semarang

Belajar dari Luka Krisis Global

Steven Tunas bukanlah lulusan sekolah bisnis atau ekonomi. Pria yang kini berdomisili di Cawang, Jakarta Timur, ini merupakan alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Latar belakang pendidikannya yang jauh dari keuangan tidak menghalangi langkahnya mendalami pasar modal secara otodidak melalui berbagai pelatihan di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Berjangka Jakarta.

Karier profesionalnya dimulai sebagai junior analis dan wakil perantara pedagang efek. Ia pernah bekerja di ruang transaksi (dealing room) di mana ia bisa melihat langsung bagaimana nasabah melakukan transaksi, mulai dari swing trading, jangka panjang, hingga one day trading. Pengalaman operasional ini memberinya wawasan mendalam tentang psikologi pasar dan kesalahan umum yang dilakukan pelaku investasi.

Puncak karier manajerialnya terjadi pada 2009 ketika pemilik ABC Grup, yang sebelumnya merupakan nasabah besarnya, mengajak Steven bergabung sebagai pengelola dana (fund manager). Selama 16 tahun terakhir, ia dipercaya mengelola aset perusahaan tersebut ke dalam berbagai instrumen seperti saham, obligasi, mata uang asing, dan emas. Tugas ini kemudian berkembang menjadi misi edukasi setelah banyak permintaan mengajar muncul, terutama saat pandemi COVID-19.

Baca juga: Yohanes Henki: 25 Tahun Jadi Kontraktor Sukses Tanpa Modal Awal

Steven menyadari bahwa literasi keuangan masyarakat Indonesia masih rendah dibandingkan keinginan mereka untuk cepat kaya. Banyak orang ingin menggunakan modal kecil untuk mendapatkan keuntungan raksasa dalam waktu singkat. Pola pikir spekulatif inilah yang sering menjerumuskan trader pemula ke dalam jurang kerugian saat pasar bergerak tidak sesuai harapan.

"Kalau bicara dapat untung itu mudah sekali tapi orang itu gampang untuk cari untung. Untung orang ngambil untung cepat gitu ya. Semua orang enggak usah diajarin kalau mau ngambil untung. Tapi kalau lagi rugi mesti ngapain? Itu sulit."

Disiplin Scalping dan Manajemen Risiko

Untuk mengatasi kerentanan terhadap gejolak pasar, Steven mendirikan Jago Scalping Community. Komunitas ini dirancang untuk membagikan pengalaman praktisnya selama bertahun-tahun agar anggota bisa mencapai profit konsisten. Fokus utama pengajarannya bukan sekadar analisis teknikal, melainkan manajemen risiko dan mentalitas dalam menghadapi kerugian.

Dalam metode scalping yang ia ajarkan, trader dilarang keras membiarkan posisi terbuka saat tidur atau saat akhir pekan. Strategi ini menghilangkan risiko terkena gap up atau gap down yang biasanya terjadi akibat berita mendadak di luar jam perdagangan. Dengan menutup posisi setiap hari, trader bisa tidur nyenyak tanpa stres memikirkan fluktuasi harga yang ekstrem.

Steven menekankan bahwa menjadi trader ahli memerlukan proses pendidikan yang setara dengan profesi spesialis lainnya. Ia mengibaratkan profesi ini dengan pilot atau dokter spesialis yang harus menempuh sekolah formal, praktik bertahun-tahun, dan akumulasi jam terbang sebelum dipercaya menangani nyawa manusia. Demikian pula dengan trader, mereka wajib mengikuti pelatihan resmi dari bursa atau otoritas seperti OJK dan Bappebti sebelum terjun dengan uang sungguhan.

Materi pembelajaran di komunitasnya mencakup manajemen uang, antisipasi risiko, serta kombinasi analisis fundamental, sentimen pasar, dan teknikal. Steven menjamin pendampingan seumur hidup bagi anggotanya melalui sesi live trading dan grup diskusi harian. Ia ingin memastikan bahwa generasi berikutnya adalah investor yang cerdas, tidak mudah tertipu janji manis investasi bodong, dan memahami perbedaan antara investasi dan judi.

Kunci ketahanan Steven selama dua dekade lebih di pasar finansial terletak pada kemampuannya menerima kerugian kecil secara disiplin daripada mempertaruhkan seluruh modal demi keuntungan instan. Ia membuktikan bahwa konsistensi meraih untung kecil setiap hari jauh lebih berharga daripada sekali untung besar lalu habis terkena margin call.

Hingga kini, Steven terus aktif mengelola dana ABC Grup sambil membina ribuan trader pemula. Pesannya sederhana namun tegas: pelan-pelan saja, gunakan modal yang benar, dan utamakan keselamatan modal di atas segala-galanya. Dalam dunia trading yang penuh ketidakpastian, disiplin adalah satu-satunya jangkar yang bisa membuat seseorang tetap bertahan.

Dikutip dari Jadi Inspirasi / Sekali Seumur Hidup (YouTube)

Bagikan artikel ini

Komentar

Pelatihan Trading Saham